Solusi Ketika Murai Batu Betina Mengalami Egg Binding


Kondisi yang tak terduga kadangkala dapat menyerang Murai Batu. Pada Murai Batu Betina misalnya, ketika sedang bertelur bisa berpotensi mengalami suatu keadaan yang tidak normal seperti Egg Binding. Tahukah anda istilah Egg Binding?

Egg Binding adalah keadaan di mana Murai Batu Betina kesulitan dalam mengeluarkan telurnya, bisa karena telur terlalu lembek, lengket atau terjepit dengan dinding-dinding saluran reproduksi dan menyebabkannya sulit untuk keluar.

Bagi para penangkar Murai Batu, kondisi seperti ini tentu merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena, egg binding tidak hanya berpotensi menggagalkan anak baru yang dapat dihasilkan, namun lebih parah daripada itu juga berpeluang mengakibatkan kematian bagi Murai Batu indukan tersebut.

Penyebab dari Murai Batu Betina dapat terkena Egg Binding bisa dikarenakan oleh banyak faktor. Murai Batu betina yang di masa pemeliharaannya sedari kecil hingga dewasa memperoleh asupan gizi yang kurang (vitamin, kalsium) dan tidak seimbang berpotensi besar akan mengalami Egg Binding. Adanya infeksi pada saluran reproduksi dan Murai Batu betina yang memiliki ukuran tubuh berlebih/gemuk (obesitas) juga rentan menderita Egg Binding.

Namun adakalanya memang Egg Binding terjadi karena faktor yang tak terduga, misalnya telur yang dihasilkan berukuran lebih besar, lebih keras, atau bahkan lebih lembek dari biasanya.

Murai Batu Betina yang terjangkit gejala Egg Binding bisa kita amati tingkah lakunya di masa ia mulai bertelur. Biasanya Murai Batu akan menunjukkan yang depresi, suka mengepak-ngepakkan sayap, nafsu makan menurun, jarang duduk di tangkringan, kotoran yang dikeluarkan sedikit, dan nafas tersengal-sengal.

Secara kasat mata kita dapat mengamati pada bagian kloaka (anus) yang membengkak, akibat tekanan dari telur. Dan pada beberapa hari sebelum, waktu yang diperkirakan Murai Batu tersebut akan mengeluarkan telurnya tubuhnya akan gemetaran karena mencoba berusaha mengeluarkan telurnya yang macet tersebut.

Jika kita menjumpai gejala-gejala seperti itu maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah segera amankan burung ke tempat yang bersuhu hangat dan tenang. Untuk memberikan efek hangat tersebut, anda bisa memasangkan lampu pijar di atas atau daerah dekat sekitarnya. Kemudian berikan tambahan kalsium, vitamin (A,D,E,) untuk membantu proses pengeluaran telur yang macet.

Setelah itu pada bagian area kloaka (anus) oleskan minyak sayur di sekitarnya. Terakhir upaya yang dapat anda lakukan dengan memberikan terapi pijatan pada bagian perut dengan gerakan mendorong telur keluar. Terapi pijatan itu haruslah dilakukan dengan pelan dan penuh hati-hati, sebab apabila telur pecah di dalam maka akan beresiko besar terhadap kematian Murai Batu tersebut.

Jika melihat cara pengobatan yang dilakukan di negara barat sana, sebenarnya resiko kematian burung yang menderita Egg Binding bisa dikatakan relatif kecil. Semua itu tentunya tidak terlepas dari pengobatan yang telah menggunakan peralatan-peralatan canggih.

Sebut saja dalam mendeteksi terjangkit tidaknya seekor burung betina penyakit egg binding, sudah menggunakan Sinar X yang mampu mendiagnosis secara lebih akurat mengenai ada tidaknya telur lengket. Jadi tidak perlu menduga-duga atau melihat indikator gejala.

Tetapi bagaimana pun juga, secanggih-canggih pengobatan yang dilakukan, mencegah Murai Batu dari segala penyakit tetap lebih baik. Pada kasus Egg Binding ini, ada baiknya kita lebih memperhatikan pemberian asupan gizi yang tepat pada Murai Batu, terutama pemberian pakan kaya kalsium dan vitamin A, D juga vitamin E. (Oleh : Roma Doni/ Sumber Gambar dan Referensi Tulisan : http://omkicau.com/2011/04/26/egg-binding-atau-telur-lengket-sering-jadu-penyebab-indukan-betina-tewas)

Kendala Yang Sering Dihadapi Oleh Penangkar Pemula

 

1. SUDAH PUNYA SEPASANG, TAPI SUSAH BERJODOH

pasangan-1Ujian pertama bagi penangkar pemula adalah menjodohkan pasangan calon indukan. Proses penjodohan murai batu boleh dibilang susah-susah gampang. Bahkan bagi peternak senior sekalipun, penjodohan calon indukan adalah proses yang krusial, dan kemungkinan kegagalan pun tetap terbuka. Tetapi jangan kuatir, kegagalan penjodohan sedapat mungkin bisa Anda hindari, asalkan tahu tips dan triknya (Baca : Lima Cara Penjodohan Murai Batu).

Untuk meminimalisir kegagalan, terlebih dahulu kenali penyebab-penyebab yang memicu calon pasangan susah berjodoh. Berikut beberapa penyebabnya : Baca Selengkapnya

Alasan Umum Untuk Tidak Segera Menangkar

 

1. Apakah Saya Punya Bakat Untuk Menangkar?

MB Kaldera-2Hallo Sobat Kicaumania, apa kabar Anda hari ini? Semoga selalu diberkahi rejeki, kesehatan, dan tetap semangat ya…

Saya tergerak menulis artikel ini, didorong oleh obrolan dan sharing dengan beberapa teman seputar penangkaran murai batu. Sebagian dari mereka selalu gamang menjawab ketika ditanya, “sampeyan gak kepingin segera menangkar murai batu?” Jawaban mereka hampir seragam, “ah, saya gak punya bakat.”

Saya selalu tertawa kecut mendengar jawaban teman-teman saya itu. Menangkar butuh bakat? Come on, sobat. Saya berani mengatakan, menangkar tak perlu bakat. Untuk memulai menangkar cuma dibutuhkan kemauan dan minat. Ya, itu saja. Artinya, jika Anda sejak awal tidak memiliki kemauan dan minat, ya mohon maaf, Anda memang tidak punya keinginan besar untuk menangkar murai batu. Bahwa Anda merasa tidak punya bakat menangkar, pasti itu hanya alasan yang dibuat-buat. Jika demikian, maka berhentilah meneruskan membaca artikel ini. Tetapi apabila anda memang yakin punya keinginan dan minat, monggo dilanjutkan… Baca Selengkapnya

Murai Batu : Antara Mitos dan Fakta (Habis)

 

Catatan Akhir

MB Alam-2

www.pbase.com

Mitos di seputar murai batu, sesungguhnya lebih banyak dari apa yang sudah dipaparkan dalam artikel ini. Apa yang diuraikan di sini, merupakan sebagian saja dari banyaknya mitos yang beredar di kalangan kicaumania.

Seperti pernah disinggung dalam tulisan sebelumnya, mitos-mitos itu tidak selalu berbanding lurus dengan fakta yang terjadi di lapangan. Bahwa ada satu atau lebih dari mitos itu benar, bukan berarti bisa menjadi konklusi final; bahwa kualitas seekor murai batu pasti ditentukan oleh ciri-ciri fisik sebagaimana yang disarankan oleh mitos yang beredar itu.

Jika ditelisik lebih cermat, sebenarnya mitos-mitos tadi hanya merujuk kepada ciri-ciri fisik ideal yang seyogyanya dimiliki oleh seekor murai batu, bukan representasi dari kualitas secara utuh. Ciri-ciri fisik ideal itu, pada gilirannya dijadikan pathokan umum yang kemudian menjadi referensi utama bagi muraimania untuk menjatuhkan pilihan terhadap calon gacoannya. Baca Selengkapnya

Murai Batu : Antara Mitos dan Fakta (4)

 

Mitos MB Paruh Celah

MB Paruh Celah-2

Bentuk fisik paruh seekor murai batu, pada umumnya mengatup saat dalam kondisi normal terdiam. Posisi paruh bagian atas dan bawah, rapat tanpa ada rongga atau celah. Nah, ketika ditemui kasus dimana ada paruh murai batu yang tidak sebagaimana umumnya, serta-merta para kicaumania beranggapan bahwa paruh yang berciri seperti itu diyakini sebagai murai batu istimewa. Lain daripada yang lain.

Maka berkembanglah mitos, murai batu yang memikiki paruh bercelah lantas diyakini memiliki kemampuan vokal di atas rata-rata. Mitos ini mengatakan: dengan adanya celah pada paruh, murai batu bersangkutan diyakini mampu menghembuskan tiupan suara atau kicauan yang lebih kencang, sehingga  menghasilkan tipe vokal yang lebih dahsyat dan tajam. Baca Selengkapnya

Murai Batu : Antara Mitos dan Fakta (3)

 

Mitos MB Kepala Papak  

“Pilihlah murai batu yang berkepala papak,  ceper, menyerupai bentuk kepala kodok.”  Itu adalah salah satu saran paling populer yang kerap  didengar oleh para kicaumania yang akan membeli murai batu. Menurut saran itu, murai batu yang berkepala papak biasanya lebih cerdas dan cenderung mudah dimaster atau digelontor suara isian.

Mitos itu berkembang sudah cukup lama, dan hampir menjadi keyakinan umum yang berlaku di kalangan muraimania sampai saat ini. Padahal, merujuk pada hasil penelitian ilmiah yang dilakukan oleh peneliti dari Hopkins Psychology, Gregory Ball dan Stewart Hulse,kecerdasan seekor burung bukan ditentukan oleh bentuk kepalanya, melainkan ditentukan oleh seberapa besar volume HVC (High Vocal Center) yang dimiliki oleh seekor burung. Baca Selengkapnya