Murai Batu: Antara Mitos dan Fakta (1)

fotohug.com

Tidak bisa dipungkiri, sampai hari, ini murai batu merupakan salah satu jenis burung peliharaan yang paling digemari  oleh para hobbies di Indonesia.

Selain kicauannya yang merdu dan variatif, murai batu juga memiliki karakter unik saat bertemu lawan tanding. Lecutan ekornya yang eksotis saat bertarung, ditimpali suara-suara tembakannya yang kadang melengking tajam, menjadikan burung bernama latin copychus malabaricus ini sebagai primadona para kicaumania. Belum lagi bicara soal harga. Dibandingkan jenis kicauan lain, harga murai batu boleh dibilang paling stabil, bahkan berkecenderungan naik terus dari waktu ke   waktu.  Harga seekor murai batu bahkan bisa mencapai angka fantastis  jika sudah nampil atau memenangi laga di event latber (latihan bersama), latpres (latihan prestasi) atau lomba.

Faktor-faktor inilah yang mendorong murai batu menjadi salah  satu kicauan yang paling diburu oleh para penghobi.

Seiring semakin ngetopnya murai batu –baik di kalangan kicaumania pemula maupun para pemain lomba—muncul pula mitos-mitos di sekeliling penggemar murai batu.  Mitos-mitos itu sudah barang tentu tidak mencerminkan fakta yang sebenarnya; mitos di seputar murai batu itu berkembang dari mulut ke mulut, tanpa bisa diverifikasi secara faktual asal usulnya.

(Wikipedia : Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa  yang terlalu dilebih-lebihkan. Mitos disebarkan untuk menyampaikan pengalaman, untuk membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas).

 

Kendati belum teruji kebenarannya, mitos-mitos itu tetap berkembang bahkan seringkali menjadi rujukan bagi murai-batu-mania untuk menetapkan pilihan; murai batu macam apa yang akan diadopsi untuk dijadikan momongan.

Sejumlah mitos yang kerap beredar di kalangan pecinta murai batu, antara lain misalnya “murai batu berkaki hitam”.  Mitos ini mengatakan : murai batu berkaki hitam  dipercaya memiliki mental tarung yang mumpuni, gahar  dan mimiliki karakter petarung spartan.

Nah, pada gilirannya nanti akan kita lihat, benarkah mitos itu jika disandingkan dengan fakta yang ada di lapangan. (Bersambung)

Untung-Rugi Anakan Diasuh Induk

Anak Diasuh Induk-4 Di kalangan penangkar murai batu, terdapat dua model pengasuhan untuk membesarkan anakan-anakan yang baru menetas. Model pertama: pengasuhan diserahkan langsung kepada induknya. Model kedua: anakan diangkat dari sarang pada umur tertentu dan diloloh sendiri oleh penangkar.

Timbul pertanyaan, dari dua model pengasuhan itu, mana yang lebih bagus hasilnya? Atau, mana yang lebih cocok dan pas diterapkan?

Jawaban dari pertanyaan di atas, sebenarnya tidak musti baku karena masing-masing penangkar memiliki alasan-alasan tersendiri; mengapa lebih senang menerapkan model pertama, atau lebih cocok menerapkan model kedua. Nanti akan coba dipaparkan, apa saja keuntungan dan kerugiannya dalam penerapan masing-masing model itu.

Anakan Diasuh Induk-2Anak Diasuh Induk-3

Model Pertama : Anakan Diasuh Induk

Keuntungan : 

  • Tidak membutuhkan waktu dan tenaga khusus meloloh sendiri anakan-anakan yang baru menetas. Model ini cocok bagi peternak yang berorientasi hobby atau kegiatan sampingan saja, bukan berorientasi bisnis.
  • Tidak terlalu membutuhkan perhatian khusus selama anakan diasuh induknya di dalam kandang penangkaran. Asalkan asupan makanan tersedia melimpah atau lebih dari cukup, kemungkinan besar anakan-anakan akan tumbuh sehat hingga siap dipanen.
  • Anakan-anakan yang langsung diasuh induknya, pertumbuhan badannya cenderung cepat bongsor.
Kerugian :
  • Anakan yang diasuh induknya, siap dipanen saat berumur antara 5 hingga 6 minggu. Ini jelas mempengaruhi tingkat produktifitas indukan. Dengan demikian, dalam 1 periode produksi, indukan butuh waktu sekitar 2 bulan (hitung-hitungannya seperti ini: 2 minggu masa pengeraman & penetasan + 6 minggu masa pengasuhan).  Jadi, dalam waktu 2 bulan sepasang indukan “hanya” menghasilkan 1 kali panenan.
  • Saat anakan berumur 12 hari, biasanya sudah mulai keluar sarang. Ini adalah masa yang paling rentan, karena anakan sudah mulai belajar terbang. Banyak kasus anakan patah kaki, terkilir, nabrak jeruji sangkar, atau malah mati karena terbang kesana kemari tanpa perhitungan.
  • Jika ada indikasi anakan kurang sehat, agak susah memberi obat atau tambahan multivitamin.
  • Anakan cenderung giras saat dipanen dan kita tempatkan di kandang soliter untuk pembesaran.
  • Setelah dipanen, masih butuh waktu sekitar seminggu hingga 2 minggu untuk mengajari anakan makan vor sendiri.    

4 Anakan

Model Kedua : Anakan Diloloh Penangkar

Keuntungan : 

  • Anakan sudah bisa dipanen saat berusia 7 hari.
  • Keuntungan yang paling nyata adalah produktivitas indukan lebih tinggi, dengan durasi yang lebih pendek. Setiap bulan bisa menghasilkan 1 kali panenan (hitung-hitungannya seperti ini: 2 minggu masa pengeraman & penetasan + 1 minggu masa pengasuhan oleh induk). Biasanya, 1 minggu setelah anakan dipanen, induk betina mulai bertelor lagi.
  • Kemungkinan terjadinya insiden patah kaki, terkilir, atau mati kejepit bisa dieleminir karena sejak umur 7 hari anakan sudah dikondisikan dalam kandang soliter untuk pembesaran.
  • Mudah memantau perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anakan dari hari ke hari. Jika ada anakan yang terindikasi kurang sehat, mudah memberikan obat atau multivitamin.
  • Sejak dini sudah diajari makan vor, sehingga saat umur 1,5 – 2 bulan anakan pada umumnya sudah bisa full makan vor sendiri.
  • Anakan tidak giras dan mudah beradaptasi karena sudah terbiasa dengan lingkungan manusia.
Kerugian :
  • Setiap 2 jam sekali anakan butuh diloloh, sehingga penangkar harus menyediakan waktu dan tenaga khusus untuk itu.
  • Membutuhkan perhatian lebih menyangkut pertumbuhan dan kesehatan anakan. Karena itu perlu disiapkan obat dan multivitamin pendukung untuk mengantisipasi jika terjadi penurunan kondisi anakan.
  • Anakan relatif lebih jinak. Padahal, ada muraimania yang lebih suka karakter yang giras –konon, murai giras lebih fighter saat bertarung dibandingkan murai jinak.

Anakan-5

Sekarang berpulang kepada Anda sendiri. Di antara 2 model pengasuhan itu, mana yang paling cocok dan pas menurut Anda. Semoga bermanfaat…

Salam Breeding

 

Betina Super

Betina Super-01

Di kalangan para muraimania, dikenal sejumlah sebutan atau atribut untuk menunjuk kepada burung murai batu yang dianggap unggulan. Misalnya: murai batu Lampung Super untuk menyebut murai batu asal Lampung yang memiliki ekor panjang. Di pasaran, murai batu Lampung umumnya memang rata-rata memiliki ekor lebih pendek dibandingkan misalnya dengan murai batu Medan. Karena ekornya yang lebih panjang dibandingkan murai batu Lampung pada umumnya, maka secara salah-kaprah murai seperti itu –khususnya oleh para pedagang– disebut murai batu Lampung Super.

Ada juga atribut murai batu Medan Super, untuk menyebut murai batu Medan yang memiliki badan bongsor dan ekor panjang di atas rata-rata murai batu Medan pada umumnya. Penyebutan atribut seperti itu sesungguhnya masih debateble dan sulit dicarikan rujukannya. Diduga kuat, penyematan atribut itu hanya bikinan para pedagang untuk sekedar menaikkan nilai jual. Karena sudah salah-kaprah, para muraimania pun ikut-ikutan mengamininya.

Artikel ini tidak berpretensi mengupas soal murai batu Lampung Super & Medan Super, tetapi sebagaimana judulnya akan mencoba membahas murai batu Betina Super. “Super” dalam konteks ini, tentu hanya terkait dengan masalah penangkaran, bukan yang lainnya.

MB-7 Bird2_60crop_p (1)

Seperti apa patokan dan ciri-cirinya sehingga disebut murai batu Betina Super, barangkali setiap penangkar akan berbeda mendefinisikannya. Mungkin ada yang berpendapat, betina super adalah betina yang memiliki postur tubuh relatif besar; betina yang punya gaya ngeplay layaknya murai batu jantan; betina keturunan dari induk jantan jawara; atau bisa juga betina yang memiliki banyak variasi isian, dan lain sebagainya. Definisi seperti itu sah-sah saja dan tidak ada yang salah.

Tetapi berdasarkan pengalaman pribadi, juga pengalaman beberapa rekan penangkar– betina super adalah betina yang memiliki bulu dominan abu-abu atau hitam kusam, bukan betina dengan warna bulu dominan hitam pekat seperti layaknya murai batu jantan. Karena untuk kepentingan penangkaran, maka definisi murai batu betina super dalam konteks ini adalah: betina yang sangat produktif dan pintar mengasuh anak setelah menetaskan.

Salah satu contoh adalah betina pasangan jantan bernama “Megatruh” di penangkaran Toro BF berikut ini. Betina ini dalam setahun bisa berproduksi 14 kali penetasan, dengan jumlah anakan bervariasi antara 2 hingga 4 ekor setiap periode tetasan.

Indukan Megatruh-01

Betina ini, selain produktif dan pintar mengasuh anak, juga gampang dijodohkan serta tidak pilih-pilih pejantan pasangannya. Ada yang menyebut betina seperti ini sebagai “Babon Cetak”. Artinya kurang lebih: dipasangkan dengan jantan mana pun, karakter anakan-anakannya akan banyak menurun dari induk jantannya tersebut.

Sedangkan betina-betina yang cenderung “tomboy” dengan warna bulu hitam pekat, berdasarkan pengalaman memang kadang agak rewel saat dijodohkan, tidak terlalu produktif dan kurang pintar mengasuh anak.

Demikian sekedar sharing pengalaman, yang sangat mungkin berbeda pula dengan pengalaman penangkar-penangkar lain. Semoga bermanfaat…

Salam Breeding

(sumber Foto: www.justbird.org, Knobby D. Holme, www.bananas.org)

Pejantan Ini, Masuk Kategori Ekor Panjang Nggak Ya…?

Kaldera-003

Tidak bisa dipungkiri, beberapa waktu belakangan ini gairah penggemar burung berkicau –yang lazim dijuluki “kicaumania”– semakin hari kian menggeliat, tak terkecuali kicaumania pecinta burung murai batu. Ini bisa ditilik dari terus ramainya nomor murai batu di ajang-ajang latber, latpres maupun lomba yang tersebar di seantero Nusantara. Hampir setiap minggu, di berbagai daerah di tanah air tidak pernah sepi dari kicaumania yang menenteng murai batu jagoannya untuk dijajal kedigdayaannya di lapangan. (more…)

Lima Cara Penjodohan Murai Batu (Bagian-5)

Tehnik Penjodohan Metode “Mandi Bareng”

Ini adalah tulisan terakhir dari seri artikel “Lima Cara Penjodohan Murai Batu”, guna melengkapi empat tulisan sebelumnya yang sudah dipublis.
Penjodohan - Mandi Bareng

Sepengetahuan saya, tehnik ini jarang diterapkan (atau jangan-jangan malah nyaris tak pernah dicoba oleh penangkar lain) dalam melakukan proses penjodohan murai batu. Tehnik ini saya lakukan berangkat dari sekedar iseng dan coba-coba, tetapi ternyata hasilnya lumayan memuaskan. Pengalaman saya, dengan tehnik ini, emosi calon indukan lebih gampang dikontrol dan diredam. (more…)

Lima Cara Penjodohan Murai Batu (Bagian-4)

Tehnik Penjodohan Menggunakan “Kandang Khusus”

Melanjutkan tulisan sebelumnya, berikut adalah tehnik penjodohan murai batu melalui media “kandang khusus” yang sengaja dirancang untuk proses penjodohan.
IMG_8141
Kandang seperti ini dirancang menggunakan “jeruji penyekat” di tengahnya, sehingga bisa dibuka-tutup sesuai kebutuhan saat melakukan proses penjodohan.

Dibandingkan dengan tehnik lainnya, cara ini menurut saya paling praktis, paling efektif dan tidak terlalu membutuhkan banyak ruang. Relatif gampang menerapkannya dan hasilnya pun cukup memuaskan. (more…)

Lima Cara Penjodohan Murai Batu (Bagian – 3)

Tehnik Penjodohan “Betina di Dalam, Jantan di Luar”

Secara umum, tehnik penjodohan ini hampir sama dengan tehnik sebelumnya  (seperti sudah dibahas di Bagian-2) dan tidak ada perbedaan yang prinsip. Hanya dibalik saja penempatannya; induk betina yang berada di sangkar soliter, sedangkan induk jantan justru berada bebas di kandang besar penangkaran.
Penjodohan-5
Cara penjodohan seperti ini bukannya tanpa maksud. Apabila Anda memiliki induk jantan berekor panjang, tentu akan sayang kalau Si Jantan yang berada di sangkar soliter yang biasanya berdimensi kecil. Sayang jika ekornya rusak hanya karena kecilnya sangkar soliter. Dengan menerapkan tehnik ini, dijamin ekor induk jantan Anda tidak bakal rusak dan Anda pun bisa melanjutkan proses penjodohan calon mempelai kedua MB itu. (more…)