Suara Murai Batu Anda Serak? Atasi Dengan Cara Ini

daun perahSuara serak burung biasanya disebabkan oleh adanya luka yang berlanjut dengan infeksi di kerongkongan. Kalau luka sudah bisa disembuhkan dengan antibiotik, biasanya burung masih serak karena banyak lendir di kerongkongan yang tidak keluar. Seringkali pula burung serak bukan karena adanya luka tetapi karena banyak lendir di kerongkongannya. Dalam hal ini, burung tetap terlihat segar bugar ditandai dengan makan lahap dan gerak lincah, tetapi suara serak, atau bahkan kadang terlihat megap-megap. Jika hal itu yang terjadi, kemungkinan besar kerongkongan burung Anda memang dipenuhi lendir ataupun ada sisa makanan menutup lubang hidung.

Coba lakukan langkah berikut:

  1. Periksa lubang hidung burung. Banyak di antara kita tidak menyadari bahwa ternyata lubang hidung burung kita tertutup kotoran, bisa berupa lendir yang mengering ataupun sisa makanan yang mengering (terutama pakan yang semula lembek seperti bubur sun untuk pakan burung srindit, atau juga buah pisang atau pepaya). Jika memang ada bagian yang tertutup, maka burung perlu segera dipegang dan Anda bersihkan lubang hidungnya. Lubang hidung yang tertutup menyebabkan suara burung tidak bisa los (banyak kosongnya) dan juga burung sering terlihat megap2 ataupun sekedar banyak membuka paruh.
  2. Jika lubang hidung tidak tersumbat, maka burung Anda perlu “diperah”. Perah di sini diambil dari nama daun jenis tumbuhan perdu yang bernama “perah” (atau sering disebut “lateng putih”).  Tumbuhan ini banyak dijumpai di halaman rumah ataupun di kebun-kebun/tegalan/ sawah. Daun ini biasanya untuk “memerah” merpati ataupun burung perkutut agar kerongkongannya terbebas dari lendir. Untuk memerah, ambil 5-7 daun perah, bersihkan, dan kemudian dilumat-lumat agar lembek (jangan sampai hancur). Setelah dilumat2, tetesi 4-5 tetes air bersih. Lumat2 lagi. Maka jika diperas, akan keluar air berwarna hijau, yakni air perasan daun perah. Air ini kemudian diteteskan ke mulut burung, masing2 3-4 tetes (Perhatikan cara memegang burung, jangan sampai terlepas tetapi jangan pula sampai tergencet (usahakan daun lateng yg masih segar, kalau daun lateng yang sudah kering tidak akan berpengaruh terhadap burung).
  3. Setelah ditetesi air perah, burung biasanya langsung “klenger” seperti sekarat dan mulut megap-megap.

Sembari terus dipegang, usahakan paruh burung berada di bawah dan ekor di bagian atas sehingga cairan kental yang mengalir dari mulut burung bisa lancar keluar. Biarkan kondisi ini sampai sekitar 10 menit. Kalau belum ada 10 menit burung sudah membuka mata sambil koar-koar, maka perlu ditetesi lagi 1-2 tetes air perahan daun perah.

Kalau ada lendir yang tidak juga menetes dari paruh burung, bantu untuk dikeluarkan dengan cara diurut-urut dengan jari (minta bantuan teman lain untuk melakukan “pemerahan”).

Setelah hal itu berlangsung selama sekitar 10 menit, semprot kemudian kedua mata burung sampai benar-benar bersih. Setelah itu, masukkan burung ke karamba.

Setelah masa pemerahan, biasanya burung terus mengibas-ngibaskan kepala/paruh dan mengeluarkan lendir yang belum keluar sebelumnya.

Kondisi ini bisa berlangsung selama 2-3 jam (bahkan ada yang sampai 2 hari kemudian masih sering mengibaskan kepala dan mengeluarkan ingus/lendir).

Setelah diperah, maka Anda akan menjumpai suara burung Anda lebih nyaring dan jernih dari sebelumnya.

Metode perah ini sudah saya cobakan untuk MB dan AK. Hasilnya memuaskan.

Untuk burung kecil seperti kenari, belum diuji cobakan karena belum ada yang bisa digunakan untuk eksperimen. (Kalau ada yang mencoba, takaran tetesnya hanya perlu 1-2 tetes).

PERHATIAN:

  1. Begitu burung ditetesi dengan perasan daun perah, jangan sekali-sekali dilepaskan ke kandang. Sebab, saat itu biasanya lendir langsung mengalir. Kalau posisi burung tidak menungging, lendir berisiko menutupi lubang pernafasan dan bisa mernyebabkan burung wassalam.
  2. Begitu ditetesi, Anda jangan kaget kalau burung Anda langsung lemas tak berkutik seperti burung yang sedang dijemput ajal dan hanya paruhnya membuka lebar dengan nafas tersengal2.
  3. Setelah terapi ini, burung jangan sampai terkena sinar matahari secara langsung selama sehari.
  4. Perahan daun perah jangan sampai mengenai mata Anda kecuali Anda akan mengalami rasa pedih yang luar biasa di kelopak mata.

 Perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji. Tanaman ini sangat mudah dipelihara dan seperti tanaman lain juga membutuhkan air dengan penyiraman merata atau menjaga kelembaban tanah dan pemupukan terutama pupuk dasar. Tanaman ini menghendaki tempat yang cukup sinar matahari dan sedikit agak terlindung. Semoga bermanfat. (Sumber : omkicau.com)

Hati-Hati Meloloh Piyik MB Usia Di Bawah 5 Hari

 

Anakan MB Bing Tiong-3Persoalan meloloh piyik murai batu, sesungguhnya bukan masalah mudah dan sepele. Jika tidak memahami tekniknya, apalagi dilakukan secara serampangan, bisa saja mendatangkan kematian bagi sang piyik.

Breeder atau peternak yang belum cukup pengalaman, biasanya cenderung “bernafsu” saat meloloh atau memberi pakan kepada piyikan murai batu yang baru dipanen dari sarang. Apalagi bagi piyikan yang dipanen saat usia masih di bawah 5 hari; ini adalah moment yang sangat rentan karena piyikan di usia itu pada umumnya “rakus” terhadap makanan, terutama saat mendengar suara orang di sekitarnya. Dengan kata lain, piyikan di usia itu, kerap membuka paruh untuk meminta diloloh, baik dalam kondisi lapar maupun kenyang.

Untuk piyik yang diangkat sebelum usia 5 hari, penangkar sebaiknya meloloh piyik tersebut dijadwal setiap jam sekali. Hindari meloloh piyik secara sembarangan, sewaktu-waktu dan tanpa jadwal, meskipun piyik bersuara minta diloloh.  Sebelum meloloh, cari dan pilih kroto yang benar-benar bersih, tidak menguarkan aroma yang tidak sedap –yang mengindikasikan kroto tersebut basi.

Barangkali muncul pertanyaan, kenapa kuantitas meloloh musti dibatasi dan tertib jadwal satu jam sekali? Bukankah lebih banyak makanan yang masuk, kondisi piyik akan lebih sehat? Pertanyaan semacam itu memang logis. Tetapi perlu dipahami,  di saat usia masih di bawah 5 hari, pencernaan piyik masih labil dan rentan terhadap jumlah makanan yang masuk. Apabila terlalu kenyang, akibatnya akan sangat fatal dan piyik bisa mati kekenyangan. Karena itu hindari meloloh secara berlebihan. Cukup 4 hingga 6 suapan kroto bersih. Sebelum melolohkan ke paruh piyikan, sebaiknya kroto dicelup sebentar ke air matang yang hangat.

Di usia itu, sebenarnya bisa juga piyik diloloh dengan jangkrik. Namun perlu diperhatikan, jangkrik yang dipilih harus yang kecil dan lunak. Hilangkan kepalanya, dan pencet tubuh jangkrik agar lunak dan mudah dicerna oleh piyikan.

Apabila tidak ingin menanggung resiko, sebenarnya lebih baik memanen piyik dari sarang saat usia sudah di atas 5 hari tetapi jangan lebih dari 8 hari. Di usia itu, jenis makanan yang sudah bisa dilolohkan ke piyikan relatif lebih variatif. Selain kroto, piyik usia di atas 8 hari sudah bisa diberi vor basah, jangkrik kecil dan ulat hongkong yang berwarna putih. Jadwal pemberian pakannya pun tidak perlu lagi dipathok setiap satu jam sekali, tetapi bisa dilakukan sesering mungkin.

Semoga bermanfaat. Salam Breeding.

 

 

Murai Batu Muda Hutan Rentan Mati, Inilah Pemicunya

Foto : SKL Bird Farm

Foto : SKL Bird Farm

Apa yang terlintas dalam pikiran kita jika murai batu muda hutan yang belum genap 1 minggu dibeli dari pasar burung tiba-tiba drop kesehatannya, nyekukruk, tidak mau makan atau bahkan langsung mati? Mungkin kita berpikir, “wah, pasti MB pancingan nih” atau “waduh, MB sakit kok dijual“, dan lain-lain. Sampai saat ini anggapan bahwa MB muda  hutan gampang mati memang ada benarnya. Tetapi apa penyebabnya?

Penyebab Utamanya Adalah Stress

Stress pada MB muda hutan akan menyebabkan immunosuppressive (menekan sistem kekebalan tubuh), sehingga penyakit lain dapat dengan mudah menyerang tubuhnya. Selain itu, stress juga dapat mengakibatkan menurunnya nafsu makan dan perilaku yang tidak normal.

Secara fisiologis, stress menyebabkan terjadinya stimulasi neuron postganglionic (nama salah satu serabut saraf) untuk menghasilkan ketokolamin (adrenalin dan/atau noradrenalin). Ketokolamin bisa menyebabkan fungsi jantung, pembuluh darah dan metabolisme umum meningkat sehingga mengakibatkan gangguan keseimbangan cairan tubuh, elektrolit, nutrisi dan pH. Jika tidak ditangani dengan cepat, stress dapat menstimulasi kortek adrenal untuk menghasilkan hormon corticosteroid yang bisa menyebabkan penurunan respon antibodi dan sistem kekebalan tubuh, pengecilan limpa, thymus dan bursa fabrisius serta peningkatan kerentanan terhadap penyakit (diolah dari berbagai sumber).

Pada MB muda hutan, tingkat cekaman stress memang sudah cukup tinggi. Semua stressor (factor penyebab stress) hampir pasti akan ditemuinya, seperti kelelahan saat pengangkutan, perubahan lingkungan dan lain sebagainya. Sebab itulah MB muda hutan menjadi sangat rentan penyakit.

Minimalkan Stress untuk Meningkatkan Harapan Hidup

Penting sekali upaya meminimalkan stress pada MB muda hutan, terutama pada awal perawatan untuk meningkatkan harapan hidup. Upaya yang dapat kita lakukan di antaranya : mengkondisikan lingkungan yang sehat serta nyaman, Memberikan vitamin C, larutan gula dan elektrolit, Memberikan kekebalan pasif seperti pemberian antibiotika dan yang terpenting adalah menghindari atau setidaknya meminimalkan stressor-nya.

Stressor yang umum kita kenal dan sangat mungkin menyebabkan stress, antara lain kelelahan, kegaduhan/suara yang mengejutkan, sirkulasi udara yang tidak baik, pergantian pakan secara drastis, kondisi air minum, perlakuan kasar, adanya orang tidak dikenal, dan suhu yang tinggi.

Kalau kelelahan, semua MB muda hutan pasti mengalami ini. Bayangkan saja sejak penangkapan di hutan hingga sampai di pasar burung berapa jauh jaraknya. Belum lagi kalau cara penanganan dan pengangkutannya yang kurang baik. Jangankan MB muda hutan, MB yang sudah mapan pun kadang ada yang macet bunyi beberapa waktu akibat kelelahan.

Pada kasus lain, pernahkah kita memperhatikan bagaimana MB muda hutan tiba-tiba nafsu makannya menurun atau bahkan mogok makan setelah mendengar suara petasan. Di lain waktu mungkin MB muda hutan lebih memilih minum daripada makan jangkrik yang disodorkan akibat terlalu lama dijemur. Itu sedikit contoh kasus stress yang terjadi pada MB muda hutan.

Beberapa Ciri MB Muda Hutan yang Mengalami Stress

  • Lamban dan lesu
  • Terengah-engah, paruh terbuka dan sayap jatuh
  • Banyak minum
  • Nafsu makan turun
  • Kotoran basah, lunak/encer atau mencret
  • Mematuk bulu
  • dll.

Meskipun MB MH tidak sakit, hal ini perlu diperhatikan serius. Kalau tidak diatasi dan keadaan makin memburuk, MB muda hutan gampang sekali mengalami kematian. (Sumber : Rifqie, kicaumania.org)

Cacing Bagus Untuk Konsumsi Burung, Inilah Jenis-Jenisnya

Cacing Kristal atau Cacing Merah (lumbricus rabbelus)

cacing krista-cacing merahCacing ini biasa digunakan sebagai pakan ikan louhan, dan sering dijual dalam kantong plastik yang diberi media serbuk sagu dan tanah. Cacing kristal juga biasa digunakan sebagai umpan mancing dan kesukaan ikan-ikan bersisik seperti wader, tawes, lokas, jelawat, grass karp dan mujair. Ikan-ikan rawa juga senang dengan umpan ini di antaranya ikan sepat, betik, gurameh serta ikan oportunis yaitu ikan lele. Cacing ini dapat tumbuh sampai 10-15 cm dan berwarna merah-coklat gelap.

 

Cacing Bayam (eisenia sp)

cacing bayamCacing ini biasa hidup di pematang-pematang swah atau juga di sayuran yang membusuk sehingga sering disebut cacing bayam. Dapat tumbuh sampai 40 cm panjangnya dan warnanya merah pucat. Selain disuka burung, cacing ini disuka oleh ikan gabus, betutu, jambal, baung dan lele. Karena cacing ini termasuk besar, maka untuk pemberiannya kepada burung perlu dipotong-potong dulu.

 

Cacing Tanah (lumbricus terestris)

cacing tanahCacing ini di daerah jawa disebut cacing uker, karena biasanya akan melengkung atau mlungker (bahasa jawa) bila dipegang. Cacing ini mempunya segmen-segmen yang jelas, warna hitam gelap sampai abu-abu, hidup di tanah membuat liang mempunyai diameter batang tubuh yang paling besar diantara cacing lainnya dan karenanya juga perlu dipotong-potong dulu untuk diberikan kepada burung.

 

Cacing Fosfor (lumbricus sp)

cacing fosforCacing ini kalau dipencet akan mengeluarkan getah putih yang sangat lengket di tangan dan karena mengandung phospor, cairan ini akan terlihat menyala di malam hari. Ciri khas cacing ini adalah warna tubuhnya merah kecoklatan. Cacing ini termasuk lincah gerakannya sehingga kadang perlu dimatikan (dengan dipukul-pukulkan ke kayu) sebelum diberikan kepada burung. Cacing jenis banyak dibudidayakan untuk digunakan sebagai bahan baku obat. Cacing ini dapat berukuran sampai 30 cm.

 

Kandungan Protein Cacing
Dari hasil penelitian menunjukkan, cacing tanah mempunyai kandungan protein cukup tinggi, yaitu sekitar 72%, yang dapat dikategorikan sebagai protein murni. Kalau dibandingkan dengan jenis bahan makanan asal hewan lainnya, misalnya ikan teri yang biasanya dipakai dalam campuran ransum unggas, mempunyai kandungan protein protein kasar berkisar antara 58-67% dan bekicot dengan kandungan protein 60,90%, masih jauh lebih rendah dibanding dengan cacing tanah.

Apalagi kalau dibandingkan dengan sumber protein dari bahan tanaman, seperti bungkil kedele, bungkil kelapa dan lain-lain, rata-rata kandungan proteinnya jauh lebih rendah dibanding  cacing tanah. Demikian pula susunan asam amino yang sangat penting bagi unggas, seperti arginin, tryptophan dan tyrosin yang sangat kurang dalam bahan pakan yang lain, pada cacing tanah kandungannya cukup tinggi. Kandungan arginin cacing tanah berkisar 10,7% tryptophan, 4,4% tyrosin, 2,25%.

Oleh karena itu cacing tanah mempunyai potensi yang cukup baik untuk mengganti tepung ikan dalam ransum unggas dan dapat menghemat pemakaian bahan dari biji-bijian sampai 70%. Walaupun demikian, penggunaan cacing tanah dalam ransum unggas disarankan tidak lebih dari 20% total ransum.

Melihat kandungan protein pada cacing ini, maka cacing memang bagus untuk diberikan kepada burung. Burung apa saja, selama mau makan cacing, boleh saja diberi cacing. (Sumber: poultryindonesia.com, alfaqirbinmiskin.blogspot)

Mengenal Beberapa Spesies Keluarga Burung Murai Batu

mb-liarCopsychus adalah genus yang populer di Indonesia, beberapa species dari genus ini tetap menjadi favorit bagi para penggemar burung, seperti Copsychus saularis (Kacer Dada Putih), Copsychus sechellarum (Kacer Hitam) dan Copsychus malabaricus (Murai Batu).

Terdapat 3 species baru berada dalam genus Copsychus. Hal ini sebenarnya bukanlah berarti ditemukannya species baru, melainkan pemisahan beberapa sub-species menjadi species tersendiri. Para ahli melakukan beberapa revisi untuk 2 sub-species dari Copsychus malabaricus, dan 1 sub-species dari Copsychus saularis, yang akhirnya memastikan 3 sub-species menjadi species tersendiri. Genus Copsychus sendiri sebelumnya berada di bawah family Turdidae, kemudian dialihkan ke dalam family Muscicapidae.

Berikut klasifikasi terakhir 2012:
class:    Aves
ordo:     Passeriformes
family:   Muscicapidae
genus:   Copsychus

Seperti yang selama ini diketahui bahwa keluarga Copsychus terdiri dari 7 species, yaitu:

  1. Copsychus saularis (Oriental Magpie Robin/ Straits Robin), Kacer Hitam Putih
  2. Copsychus sechellarum (Seychelles Magpie Robin), Kacer Hitam
  3. Copsychus albospecularis (Madagascar Magpie Robin), Kacer Madagascar
  4. Copsychus malabaricus (White Rumped Shama), Murai Batu
  5. Copsychus luzoniensis (White Browed Shama), Murai Filipina
  6. Copsychus niger (White Vented Shama), Murai Hitam Filipina
  7. Copsychus cebuensis (Black Shama). Murai Cebu

Sedangkan penambahan species baru tersebut, adalah:

  • Copsychus albiventris (Andaman Shama), Murai Andaman
  • Copsychus mindanensis (Philippine Magpie Robin), Kacer Filipina
  • Copsychus stricklandii (Strickland Shama or White Rumped Shama), Murai Strickland

Berikut sedikit penjelasan tentang ke 3 species baru Murai tersebut:

1. Copsychus albiventris (Andaman Shama), Murai Andaman

Foto : kolkatabirds.com

Foto : kolkatabirds.com

Burung ini sebelumnya dikenal sebagai sub-species dari Copsychus malabaricus, yaitu Copsychus malabaricus ssp. albiventris. Tapi saat ini burung ini telah dipromosikan menjadi suatu species tersendiri dengan nama Copsychus albiventris.

Dari segi postur, suara serta karakter Copsycus albiventris, memang tidak terlalu jauh berbeda dengan Copsychus malabaricus, hanya saja burung ini memiliki bentuk tubuh dan ekor yang pendek. Mungkin hal ini yang membuat para ahli, memisahkan jenis ini menjadi suatu species tersendiri.

 

 

2. Copsychus mindanensis (Philippine Shama), Kacer Filipina

Foto : twearth.com

Foto : twearth.com

Burung ini juga sebelumnya dikenal sebagai salah satu sub-species dari Copsychus saularis, atau lebih dikenal dengan Copsychus saularis ssp. mindanensis. Saat ini telah menjadi suatu species tersendiri dengan nama Copsychus mindanensis.

Dari segi postur, karakter dan suara juga tidak berbeda jauh dengan Copsychus saularis,  tapi para ahli rupanya memiliki pendapat tersendiri, sehingga memisahkan jenis ini menjadi suatu species tersendiri.

 

3. Copsychus stricklandii (Strickland Shama or White Rumped Shama), Murai Strickland

Foto : pbase.com

Foto : pbase.com

Burung yang satu ini, telah lama dikenal di Indonesia, karena memang banyak terdapat di pulau Kalimantan Indonesia dan Sabah Malaysia.  Di Indonesia burung ini memiliki beberapa nama, seperti Murai Kepala Putih, Murai Haji, dan lain-lain. Burung ini sebelumnya merupakan salah satu sub-species dari Copsychus malabaricus, yaitu lebih dikenal dengan nama Copsychus malabaricus ssp stricklandii. Saat ini para ahli telah memisahkan burung ini menjadi suatu species tersendiri, yaitu Copsychus stricklandii. Dari segi postur burung ini memang agak berbeda dengan jenis Copsychus malabaricus pada umumnya. Burung Copsychus stricklandii ini memiliki bentuk tubuh yang agak bulat, ekor pendek serta suara yang lebih monoton dibanding jenis Murai lainnya. (Sumber : planetburung.blogspot.co.id)

Hasil Penelitian, Suara Murai Batu Memiliki Berbagai Jenis & Karakter

MB-hutan-2Pada awal tahun 1969, Johannes Kneutgen menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitiannya tentang karakter dan lagu-lagu burung murai batu (Copsychus malabaricus). Hasil risetnya diterbitkan dalam Journal of Ornithology (Juli 1969). Meski sudah lama, banyak hal yang bisa kita pelajari dari artikel ini, sehingga kita bisa mengenali berbagai jenis dan karakter suara burung murai batu sebagai tambahan pengetahuan bersama.

Dalam artikel tersebut, Johannes Kneutgen menyebutkan burung murai batu mengembangkan tiga jenis suara. Pertama, “suara bergemuruh”, yang kita kenal sebagai suara indah dan khas murai batu. Kedua, suara tema atau suara subsong / ngeriwik. Ketiga, lagu-lagu harmoni yang kaya irama.

Sebagian besar suara tersebut dilagukannya tanpa terjadi rangsangan, atau sering dilagukan secara acak dalam waktu-waktu kesehariannya. Dengan kata lain, murai batu bisa bernyanyi sesuka hati, tanpa memandang apakah ada burung lain atau burung sejenis di sekitarnya.

Dari ketiga karakter suara itu, murai batu akan mengembangkan karakter vokal atau lagu-lagunya saat bertemu lawan-lawannya, untuk mempertahankan daerah kekuasaan (teritorial). Saat itulah, masing-masing murai batu saling meniru satu sama lain, sehingga makin memperkaya struktur lagu mereka.

Setiap individu murai batu berusaha meniru irama musuhnya (shouting matches) dengan lagu-lagu yang dimilikinya. Makin hebat seekor burung menirukan suara musuhnya, maka dari situlah bisa didapatkan hasil akhir dari perselisihan mereka.

Berdasarkan dari penelitian tersebut, kita bisa menyimpulkan, murai batu sejak piyikan berusaha mempelajari lagu-lagu dari kedua induknya. Lagu-lagu murai batu akan terus berkembang sehingga terdiri atas beberapa tipe lagu seperti yang kita kenal selama ini.

Suara subsong atau ngeriwik adalah suara yang tidak memiliki strukstur lagu, terdengar sangat pelan, dan terkadang dilagukan dengan tanpa membuka paruh. Biasanya suara subsong lebih memiliki banyak variasi daripada suara kicauan. Murai batu akan mengeluarkan suara ini saat beristirahat, terutama sore hari atau saat turun hujan.

Secara umum, suara ngeriwik sering dilantunkan murai batu muda atau masih dalam tahap mempelajari lagu-lagu baru. Pada burung jantan dewasa, suara ini sering dikeluarkan pada masa mabung. Saat itulah mereka mencoba mempelajari suara-suara baru untuk dilagukannya sebagai modal bertahan hidup selepas mabung.

Karena itu pula, burung murai batu yang sedang mabung sering diberikan suara-suara masteran, karena pada saat itu burung cepat tertarik untuk mempelajari lagu-lagu barunya. Semoga bermanfaat. (Sumber : Aries Munandi/omkicau.com)