Alasan Umum Untuk Tidak Segera Menangkar

 

1. Apakah Saya Punya Bakat Untuk Menangkar?

MB Kaldera-2Hallo Sobat Kicaumania, apa kabar Anda hari ini? Semoga selalu diberkahi rejeki, kesehatan, dan tetap semangat ya…

Saya tergerak menulis artikel ini, didorong oleh obrolan dan sharing dengan beberapa teman seputar penangkaran murai batu. Sebagian dari mereka selalu gamang menjawab ketika ditanya, “sampeyan gak kepingin segera menangkar murai batu?” Jawaban mereka hampir seragam, “ah, saya gak punya bakat.”

Saya selalu tertawa kecut mendengar jawaban teman-teman saya itu. Menangkar butuh bakat? Come on, sobat. Saya berani mengatakan, menangkar tak perlu bakat. Untuk memulai menangkar cuma dibutuhkan kemauan dan minat. Ya, itu saja. Artinya, jika Anda sejak awal tidak memiliki kemauan dan minat, ya mohon maaf, Anda memang tidak punya keinginan besar untuk menangkar murai batu. Bahwa Anda merasa tidak punya bakat menangkar, pasti itu hanya alasan yang dibuat-buat. Jika demikian, maka berhentilah meneruskan membaca artikel ini. Tetapi apabila anda memang yakin punya keinginan dan minat, monggo dilanjutkan… Baca Selengkapnya

Murai Batu : Antara Mitos dan Fakta (Habis)

 

Catatan Akhir

MB Alam-2

www.pbase.com

Mitos di seputar murai batu, sesungguhnya lebih banyak dari apa yang sudah dipaparkan dalam artikel ini. Apa yang diuraikan di sini, merupakan sebagian saja dari banyaknya mitos yang beredar di kalangan kicaumania.

Seperti pernah disinggung dalam tulisan sebelumnya, mitos-mitos itu tidak selalu berbanding lurus dengan fakta yang terjadi di lapangan. Bahwa ada satu atau lebih dari mitos itu benar, bukan berarti bisa menjadi konklusi final; bahwa kualitas seekor murai batu pasti ditentukan oleh ciri-ciri fisik sebagaimana yang disarankan oleh mitos yang beredar itu.

Jika ditelisik lebih cermat, sebenarnya mitos-mitos tadi hanya merujuk kepada ciri-ciri fisik ideal yang seyogyanya dimiliki oleh seekor murai batu, bukan representasi dari kualitas secara utuh. Ciri-ciri fisik ideal itu, pada gilirannya dijadikan pathokan umum yang kemudian menjadi referensi utama bagi muraimania untuk menjatuhkan pilihan terhadap calon gacoannya. Baca Selengkapnya

Murai Batu : Antara Mitos dan Fakta (4)

 

Mitos MB Paruh Celah

MB Paruh Celah-2

Bentuk fisik paruh seekor murai batu, pada umumnya mengatup saat dalam kondisi normal terdiam. Posisi paruh bagian atas dan bawah, rapat tanpa ada rongga atau celah. Nah, ketika ditemui kasus dimana ada paruh murai batu yang tidak sebagaimana umumnya, serta-merta para kicaumania beranggapan bahwa paruh yang berciri seperti itu diyakini sebagai murai batu istimewa. Lain daripada yang lain.

Maka berkembanglah mitos, murai batu yang memikiki paruh bercelah lantas diyakini memiliki kemampuan vokal di atas rata-rata. Mitos ini mengatakan: dengan adanya celah pada paruh, murai batu bersangkutan diyakini mampu menghembuskan tiupan suara atau kicauan yang lebih kencang, sehingga  menghasilkan tipe vokal yang lebih dahsyat dan tajam. Baca Selengkapnya

Murai Batu : Antara Mitos dan Fakta (3)

 

Mitos MB Kepala Papak  

“Pilihlah murai batu yang berkepala papak,  ceper, menyerupai bentuk kepala kodok.”  Itu adalah salah satu saran paling populer yang kerap  didengar oleh para kicaumania yang akan membeli murai batu. Menurut saran itu, murai batu yang berkepala papak biasanya lebih cerdas dan cenderung mudah dimaster atau digelontor suara isian.

Mitos itu berkembang sudah cukup lama, dan hampir menjadi keyakinan umum yang berlaku di kalangan muraimania sampai saat ini. Padahal, merujuk pada hasil penelitian ilmiah yang dilakukan oleh peneliti dari Hopkins Psychology, Gregory Ball dan Stewart Hulse,kecerdasan seekor burung bukan ditentukan oleh bentuk kepalanya, melainkan ditentukan oleh seberapa besar volume HVC (High Vocal Center) yang dimiliki oleh seekor burung. Baca Selengkapnya

Murai Batu : Antara Mitos dan Fakta (2)

 

Mitos MB Ekor Cabang (Ekor Nggunting)

Mitos ini mengatakan : murai batu yang memiliki ekor bercabang atau ekor mirip bilah gunting terbuka, dipercaya mengidap mental yang tidak stabil, angot-angotan. Performanya susah  ditebak. Kadang bagus kadang  berpenampilan buruk. Banyak juga yang meyakini, murai batu ekor cabang cenderung sulit diatur dan susah jinak. Benarkah?

Faktanya : performa seekor murai batu bukan tergantung seperti apa bentuk atau model ekornya, melainkan bagaimana konsistensi perawatannya, pola pelatihan, asupan gizi hariannya, lingkungan, serta karakter dasarnya. Barangkali memang ada kasus, dimana seekor murai batu  dengan model ekor sebagaimana digambarkan di atas, dan kebetulan performanya jeblog. Tetapi tentu saja kasus seperti itu tidak bisa digeneralisasi, di-gebyah uyah. Stabilitas performa seekor murai batu di lapangan, sesungguhnya lebih dominan ditentukan oleh konsistensi perawatan sehari-hari, sama sekali bukan disebabkan oleh bentuk ekornya yang bercabang. Banyak kok murai batu ekor nggunting tapi tetap nampil dan jawara di lapangan. Baca Selengkapnya

Murai Batu: Antara Mitos dan Fakta (1)

www.fotohug.com

Tidak bisa dipungkiri, sampai hari, ini murai batu merupakan salah satu jenis burung peliharaan yang paling digemari  oleh para hobbies di Indonesia. Selain kicauannya yang merdu dan variatif, murai batu juga memiliki karakter unik saat bertemu lawan tanding. Lecutan ekornya yang eksotis saat bertarung, ditimpali suara-suara tembakannya yang kadang melengking tajam, menjadikan burung bernama latin copychus malabaricus ini sebagai primadona para kicaumania. Belum lagi bicara soal harga. Dibandingkan jenis kicauan lain, harga murai batu boleh dibilang paling stabil, bahkan berkecenderungan naik terus dari waktu ke   waktu.  Harga seekor murai batu bahkan bisa mencapai angka fantastis  jika sudah nampil atau memenangi laga di event latber, latpres atau lomba. Baca Selengkapnya