Inilah Beberapa Manfaat Ulat Kandang Untuk Penangkaran Murai Batu

ulatkandang

 

Ulat kandang sebagai pakan tambahan untuk burunulatkandangg peliharaan maupun menu utama penangkaran murai batu, sampai saat ini masih kalah pamor dibandingkan ulat hongkong. Padahal manfaat ulat kandang dikenal lebih ampuh ketimbang ulat hongkong, selain itu lebih aman jika diberikan dalam jumlah yang cukup banyak. Tulisan berikut akan mengulas apa manfaat ulat kandang dan bagaimana merawatnya sebagai pakan burung peliharaan.

Dalam bahasa Inggris, ulat kandang dikenal dengan nama lesser mealworm. Jenis ulat ini adalah larva dari kumbang Alphitobisu diaperinus (Tenebrionaidae). Betuknya mirip ulat hongkong, hanya saja dengan ukuran yang jauh lebih kecil, berwarna lebih gelap dan cara jalanya yang cukup cepat. Di kawasan Jawa Timur, ulat ini populer disebut ulat balap –mungkin karena cara berjalannya yang cepat itu.

Ulat kandang lazim ditemukan di peternakan-peternakan ayam dan dari situlah nama mereka berasal. Jenis ulat ini memang kurang begitu popular ketimbang ulat hongkong, namun penelitian atas kandungannya bisa membuktikan bahwa ulat kandang ternyata lebih memiliki banyak manfaat daripada ulat hongkong. Bahkan, menurut pengakuan sejumlah penangkar murai batu, manfaat ulat kandang ini sudah banyak teruji. Misalnya, untuk mendongkrak produktivitas indukan betina, serta menjaga daya tahan tubuh saat cuaca tidak bersahabat seperti musim hujan.

Manfaat ulat kandang untuk burung penangkaran & peliharaan antara lain:

  • Mendongkrak produktivitas indukan
  • Mendongkrak stamina burung sehingga burung jadi lebih aktif dan rajin berbunyi
  • Memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dari ulat hongkong
  • Memiliki kulit yang tidak terlalu keras
  • Tidak menimbulkan efek samping ketika diberikan dalam jumlah banyak

Salah satu penyebab kurang dikenalnya ulat kandang oleh sebagian kicaumania adalah sulitnya mencari keberadaan jenis ulat ini di toko-toko pakan burung. Sehingga tidak banyak kicaumania yang tahu banyak mengenai manfaat ulat kandang untuk burung mereka.

Kandungan nutrisi yang terdapat dalam ulat kandang adalah:

  • Protein kasar berjumlah 48%
  • Lemak kasar berjumlah 40 %
  • Kadar abu berjumlah 3%
  • Kandungan ekstrak non-nitrogen berjumlah 8%
  • Kadar air berjumlah 57%

Perawatan ulat kandang untuk pakan burung kicauan
Merawat ulat kandang tidak jauh berbeda dengan merawat ulat hongkong untuk pakan burung kicauan. Untuk menjaga agar ulat kandang tersebut tetap segar dan sehat, maka pemberian pakan harus diutamakan. Adapun cara yang bisa dilakukan untuk merawat ulat kandang adalah sebagai berikut:

  • Menaburi voer halus ke dalam tempat menyimpan ulat kandang tersebut.
  • Memberikan pakan sayuran seperti irisan kentang, wortel, atau yang lainnya.
  • Menjaga dari serangan hama seperti semut atau binatang perusak lainnya.
  • Menyimpan di tempat yang teduh dan lembab, serta tidak terkena sinar matahari langsung.

Namun jika tidak mau direpotkan dengan perawatannya itu, anda bisa menyimpan ulat-ulat kandang tersebut dalam sebuah wadah atau toples lalu disimpan dalam lemari pendingin untuk dibekukan.  Itulah beberapa manfaat ulat kandang untuk burung kicauan serta bagaimana cara merawatnya. Salam kicau. (Sumber : agrobur.com)

 

Mengenal Lebih Dekat Penangkaran Murai Batu Ekor Hitam

Foto : mediaronggolawe.com

 

Foto : mediaronggolawe.com

Foto : mediaronggolawe.com

Murai batu ekor hitam (black tail) memang sudah lama ngetren di Jabodetabek dan sekitarnya. Bahkan sebagian penggemarnya membuka kelas khusus ini. Itu berarti pemiliknya bisa mengikuti kelas khusus, sekaligus bisa menurunkan burungnya di kelas murai biasa. Hal inilah yang membuat beberapa penangkar murai, misalnya Om Imam Iswahyudi (Yaqisa Bird Farm), bersemangat dalam mengembangbiakkan murai batu ekor hitam.

Upaya penangkaran murai black tail ini sekaligus untuk menekan angka penangkapan burung di alam liar, khususnya di pulau-pulau kecil yang termasuk dalam wilayah Nangroe Aceh Darussalam (misalnya Kepulauan Simeulue / Sibabang, Lempuyang, Lasia, Sabang), Sumatera Utara (Pulau Nias), dan Sumatera Barat (Kepulauan Mentawai dan Pagai).

Menurut Om Imam, dari kualitas suara, volume murai ekor hitam jauh lebih keras dan tembus daripada murai batu biasa. Begitu juga durasi kerjanya, jauh lebih ngedur ketimbang jenis murai pada umumnya. Selama ini memang beredar mitos-mitos keliru mengenai murai ekor hitam.

Saat ini, Om Imam memiliki empat pasang induk murai ekor hitam di kediamannya, Perumahan Griya Harapan Permai Blok-4 No 18, Harapan Indah Bekasi. Yaqisa Bird Farm juga menangkarkan murai batu ekor putih, khususnya yang berasal dari Lampung, tetapi sebagian besar merupakan trah juara.

Menurutnya, banyak kelebihan dan kemudahan dalam penangkaran black tail. Antara lain, burungnya lebih cepat jinak, proses penjodohan juga lebih mudah, dan tidak membutuhkan waktu lama. ”Ini keunggulan black tail,” ujarnya, ketika ditemui omkicau.com di rumahnya.

Sampai saat ini, Om Imam masih membatasi jumlah pasangan induk, agar lebih fokus. Induk jantan yang dijodohkan pun dipilih dengan kriteria utama sudah pernah berprestasi di lapangan. Harapannya, anakan yang dihasilkan bisa memiliki karakter fighter seperti bapaknya. Bahkan, agar lebih bervariasi, dia juga menyilangkan dengan murai batu medan atau murai ekor panjang.

Sedangkan induk betina dipilih yang memiliki kualitas suara dan postur ideal (tubuh proporsional). Jadi, ada kombinasi antara kualitas suara, mental di lapangan, dan penampilan fisiknya.

Sebagai seorang breeder, Om Imam memang lebih mengarahkan produknya pada mutu atau kualitas. Seleksi anakan dilakukan sejak awal, demi menjaga mutu produk. Sebab para pelanggan anakan murai produk Yaqisa BF bukan sekadar penghobi rumahan saja, tetapi juga para pemain lapangan.

Untuk meningkatkan kualitas anakan, Yaqisa BF juga makin selektif dalam memilih indukan. Beberapa induk jantan memiliki basic blood dari Arco BF Serang milik Om Darlian, yang dikenal sering melahirkan murai batu jawara di Jabodetabek, kemudian dikawinkan dengan induk betina yang juga memiliki darah juara.

“Beberapa induk betinanya merupakan keturunan burung jawara favorit di Arco BF, misalnya Matador, Raja Rimba, Torres, Patriot, dan Zola. Semuanya merupakan murai jawara produk Arco,” tandas Om Imam. (Sumber : Dudung Abdul Muslim, omkicau.com)

Jangan Maniak Kroto Untuk MB Anda, Karena Telur Pun Bisa Jadi Gantinya

jawarakicau

 

jawarakicauSebagian besar pemilik murai batu memberikan kroto, baik sebagai pakan tambahan (extra fooding) untuk burung yang biasa makan voer, maupun sebagai pakan utama untuk  burung yang tidak pernah makan voer seperti murai batu Panglima milik Om Yongka dari Jambi. Pada musim hujan seperti saat ini, kicaumania di beberapa daerah kian sulit mendapatkan kroto yang benar-benar berkualitas. Sebagai pengganti kroto, baik sementara maupun permanen, Anda bisa memanfaatkan telur untuk pakan murai batu dalam beberapa variasi.

Jika kita mau membicarakan perawatan murai batu secara global, maka budaya memberikan kroto untuk murai batu boleh dikatakan khas Indonesia. Di beberapa negara Asia Tenggara pun, sebenarnya tidak banyak kicaumania yang memberi kroto untuk murai batu. Mereka lebih mengandalkan voer, ulat hongkong, jangkrik, ikan-ikan kecil, serta multivitamin dan multimineral.

Belakangan, beberapa muraimania di Malaysia dan Singapura memberikan kroto, karena meniru apa yang dilakukan sobat kicaumania di Indonesia. Ini bisa disimak dalam beberapa forum burung kicauan di kedua negara tersebut. Adapun penggemar murai batu di Eropa dan Amerika, yang jumlahnya terus bertambah, sangat jarang memberikan kroto kepada murai batunya. Jadi, ketika kroto kita tinggalkan untuk sementara (akibat kelangkaan pasar) maupun permanen, sebenarnya tidak menjadi masalah besar.

Dalam kasus yang “lebih kecil”, Om Syamsul Saputro dari SKL Bird Farm juga tak menggunakan kroto selama murai batu mabung. Toh tidak ada masalah, sepanjang burung memang sudah terbiasa makan voer.

Apabila Anda membatin, “Lha, yang dicontohkan Om Kicau kan burung-burung dalam penangkaran”, maka Om Kicau akan menjawab, bukankah murai batu yang dilombakan di Malaysia, Singapura, Vietnam, apalagi di Eropa, umumnya juga tak pernah dikroto? Bahkan murai batu Biola dan anis merah Romeo, keduanya milik Om Yang-Yang (owner PM22 Tasikmalaya), sudah beberapa kali menjuarai lomba regional di Jawa Barat.

Sebenarnya solusi ini bukan hanya bisa diterapkan untuk murai batu, tetapi juga untuk jenis burung kicauan lainnya, seperti kacer, ciblek, tledekan, dan sebagainya. Bahkan untuk beberapa jenis burung tertentu.

Jadi, meski objek tulisan ini mengenai murai batu, materinya dapat diaplikasikan pada jenis burung lain yang selama ini terbiasa makan kroto.

Sesuai dengan judul artikel ini, ada beberapa variasi pemanfaatan telur untuk pakan murai batu. Setidaknya ada tiga variasi, yaitu  :

  • Memberikan telur rebus (putih telur dan kuning telur)
  • Memberikan telur rebus (hanya putih telur saja)
  • Menyuntikkan kuning telur ke tubuh jangkrik, lalu diberikan kepada burung

 

1. Memberikan telur rebus (putih telur dan kuning telur)

Telur yang bisa digunakan boleh telur ayam, telur itik / bebek, atau telur puyuh. Mengenai kandungan gizi pada ketiga jenis telur ini, silakan lihat pada tabel di bagian bawah halaman ini.

Jika bahan baku sudah ada, silakan rebus telur. Jika sudah matang, kupas cangkang telurnya, sehingga tinggal gelondongan telur yang terdiri atas putih telur (bagian luar) dan kuning telur (tidak terlihat, karena di dalam, he.. he..). Selanjutnya, gelondongan telur diparut dengan serutan keju agar hasilnya menjadi lebih halus.

Metode inilah yang diterapkan Om Yang-Yang (PM22 Tasikmalaya). Namun, untuk mengawalinya, harus diberikan secara bertahap. Sebab jika langsung diberikan, terkadang burung tidak mau.

Jadi, awalnya 1 bagian parutan telur dicampur dengan 3 bagian kroto, dan secara bertahap perbandingannya dibalik sehingga lama-lama menjadi 3 : 1 dan akhirnya 4 : 0 yang berarti sudah full telur, dan good bye untuk kroto.

Hal serupa juga dilakukan Om Agus, pemilik ABS Bird Farm di Ciracas, Jakarta Timur. Bedanya, Om Agus mencampur parutan telur rebus dengan jangkrik dan ulat hongkong

 

2. Memberikan telur rebus (hanya putih telur saja)

Selain metode di atas, Anda juga bisa memberikan telur rebus namun hanya putih telur (albumin) saja. Telur yang digunakan juga boleh ayam, bebek, maupun puyuh.

Untuk memberikan putih telur rebus, ada dua cara :

Pertama, seperti metode sebelumnya, telur direbus hingga matang. Selanjutnya dikupas cangkangnya. Gelondongan telur dibelah dua, dan bagian kuning telur bisa disimpan untuk keperluan lain (dimakan juga sah-sah saja, he.. he..). Putih telur dipotong-potong seukuran jari, atau bisa juga diparut dengan serutan keju agar hasilnya lebih halus.

Kedua, telur mentah ditusuk dengan jarum pada ujung telur yang tumpul, kemudian dicongkel sedikit sehingga terjadi lubang kecil dan menjadi tempat keluarnya cairan putih telur. Tampung putih telur dalam kantung plastik, kemudian direbus hingga matang. Putih telur yang sudah matang juga bisa dipotong-potong seukuran jari, atau diparut menggunakan serutan keju.

Adapun kuning telur alias yolk bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, misalnya dimanfaatkan untuk pembuatan eggfood bagi kenari atau ciblek Anda (kalau kuning telur ayam kampung bisa untuk jamu…).

Putih telur memiliki kandungan protein yang tinggi, sekitar 15-19 %, tergantung jenis telurnya. Selain itu, putih telur juga mengandung vitamin yang cukup lengkap (A, D, E, K, B2, B5, B9, dan B12), asam amino yang bagus untuk  pembentukan hormon dan pertumbuhan bulu-bulunya.

 

3. Menyuntikkan kuning telur ke tubuh jangkrik

Kuning telur yang masih mentah (belum direbus) juga bisa disuntikkan / dispet ke tubuh jangkrik. Jumlah jangkrik yang dispet cukup 2 – 3 ekor saja. Misalnya burung Anda terbiasa diberi jangkrik dengan porsi 5/5, maka cukup 2 – 3 ekor jangkrik saja yang dispet kuning telur pada pagi hari.

Teknik pengambilan kuning telur bebas. Boleh dipecah dan isinya dimasukkan dalam cawan kecil, lalu dipisahkan antara kuning dan putih telurnya. Selanjutnya, kuning telur disedot dengan spet, dan disuntikkan ke tubuh jangkrik. Cara seperti inilah yang diterapkan SKL Bird Farm ketika mengalami kelangkaan kroto. (Sumber : Aries Munandi, omkicu.com)

Bisnis Penangkaran Murai Batu Masih Sangat Menjanjikan

Foto : TORO Bird Farm
Foto : TORO Bird Farm

Foto : TORO Bird Farm

Meski saat ini semakin banyak saja orang yang menangkarkan murai batu, tetapi prospek ke depannya tetap bagus. Hal ini disebabkan stok pasokan murai batu dari hutan mulai menipis karena terus dikuras, sementara peminat burung kicauan semakin hari semakin banyak saja. Pada saat yang sama, banyak penghobi yang tidak sabar untuk merawat murai hasil tangkapan hutan karena lama jinaknya, dan karenanya harus menunggu setahun dua tahun untuk menikmati burungnya secara maksimal, apalagi untuk dibawa ke arena lomba.

Sementara anakan murai batu hasil penangkaran, selain kita bisa memilih anakan dari indukan-indukan tertentu yang kita sukai, entah karena suaranya atau karena postur tubuhnya, juga cepat bunyi. Bahkan ketika masih trotolpun sudah mulai bisa dinikmati ngriwikannya. Selepas mabung, biasanya murai batu hasil tangkaran dengan indukan yang bagus sudah mulai ngerol dan bahkan ada yang sudah siap masuk arena lomba.

Untuk penangkar, kondisi ini memang menguntungkan. Dan sejauh ini, tidak pernah ada cerita anakan murai batu harganya jatuh. Minimal bertahan tetapi kecenderungannya naik terus. Apakah dengan banyaknya penangkaran nanti tidak akan membuat harga burung murai batu jatuh di pasaran? Saya yakin tidak. Sebab, semakin hari semakin banyak orang yang mencari anakan-anakan murai batu dari indukan bagus, dan para penangkarpun akan harus berlomba untuk mencari indukan bagus. Artinya, kalau kita sudah bisa menangkar dengan indukan yang kualitasnya “biasa saja”, tentu akan terpacu untuk mencari indukan dengan kualitas bagus. Artinya, pemburu murai batu hasil tangkaran tidak hanya penghobi tetapi juga penangkar yang sudah mapan atau para penangkar pemula.

Tentu saja, agar kita bisa bertahan menjadi penangkar murai batu yang produksinya selalu diburu oleh penghobi, haruslah selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas produk. Selain diupayakan melalui pencarian indukan di arena lomba, juga bisa dilakukan cross antar jenis murai batu. Misalnya, murai batu ekor panjang untuk betina dan murai batu nias untuk pejantannya.

Murai batu nias terkenal punya tembakan-tembakan yang melengking dan kristal, tetapi kurang disukai juri di arena lomba karena ekornya hitam semua. Nah dengan mencoba menyilangkannya dengan murai batu jenis lain, diharapkan akan menghasilkan anakan dengan suara kualitas nias tetapi dengan ada warna putih di ekornya. (Sumber : facebook – Murai Batu “chrisna” Pati,Jateng”)

Burung Anda Mati Mendadak? Inilah Beberapa Penyebabnya

Foto : SKL Bird Farm
Foto : SKL Bird Farm

Foto : SKL Bird Farm

Merawat burung kicau tidaklah semudah merawat hewan peliharaan jenis lainnya. Seorang kicaumania harus bisa mengatus pakan dan nutrisinya agar peliharaannya itu tetap aktif dan rajin berbunyi. Selain itu, meski perawatan harian tetap diterapkan namun sering terjadi kematian mendadak pada peliharaannya itu. Ulasan berikut akan mengupas beragam penyebab kematian mendadak pada burung peliharaan.

Beragam kemungkinan bisa terjadi dan menimpa semua jenis burung peliharaan, termasuk salah satunya adalah kematian mendadak. Namun berbeda dengan situasi yang dialami oleh jenis kenari dan finch (baca lagi Penyebab kematian mendadak pada burung kenari dan finch), pada jenis kicauan pemakan serangga seperti murai batu, kacer, cucak hijau, dan ciblek hal seperti ini cukup sering terjadi an terkadang tidak bisa diperkirakan oleh perawatnya.

Meski begitu, beberapa hal berikut ini cukup umum dan sering menjadi penyebab kematian mendadak pada burung peliharaan, yaitu:
1. Stres berlebihan
2. Heat stroke
3. Polusi udara terutama sering menghisap co2 (karbondioksida)
4. Memakan serangga atau binatang beracun
5. Memakan buah atau sayur-sayuran yang mengandung racun
6. Mengkonsumsi makanan atau minuman yang tidak umum.
Kematian mendadak akibat stres berlebihan

Burung yang terlalu stres sangat rentan mengalami kematian mendadak yang terkadang sering pula disertai dengan gejala seperti kejang-kejang. Umumnya yang paling beresiko dengan masalah ini adalah burung bakalan terutama dari jenis murai batu. Burung bakalan memang masih memiliki tingkat stres yang cukup tinggi, karena itulah sebelum anda melakukan perawatan yang rutin ada baiknya mengenali bagaimana perawatan burung bakalan terutama yang baru didapatkan dari hasil tangkapan hutan.

Kematian mendadak akibat heat stroke

Beberapa jenis burung peliharaan yang terlalu lama berada di bawah terik matahari cenderung mudah mengalami heat stres yang biasanya bisa diperhatikan dari burung yang sering membuka paruhnya lebar-lebar untuk membuang panas tubuhnya. Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka yang terjadi kemudian adalah burung mengalami dehidrasi yang berlanjut pada kondisi heat stroke yang bisa memicu kematian mendadak.

Untuk pencegahan dan langkah aman, sebaiknya penjemuran dimulai sejak pukul 06:30 – 07:00 pagi hari dan diakhiri setelah 2 – 3 jam kemudian, atau tidak lebih dari pukul 10:00 siang jika matahari sedang terik-teriknya.

Kematian mendadak akibat polusi udara

Polusi udara bisa menjadi salah satu penyebab kematian mendadak pada burung peliharaan. Polusi udara ini bisa berasal dari karbondioksida (co2) hasil pembakaran sampah, asap kendaraan, maupun sumber polusi lainnya. Untuk pencegahan sebaiknya jauhkan burung tersebut dari lokasi yang dekat dengan sumber polusi tersebut.

Kematian mendadak akibat memakan serangga beracun

Beberapa jenis serangga yang tidak umum atau tidak biasa dikonsumsi oleh burung peliharaan ternyata mengandung racun yang bisa mengganggu kesehatan dan menyebabkan kematian mendadak. Untuk pencegahan sebaiknya hindari memberikan serangga-serangga tersebut secara berlebihan (terlalu sering), serta berusaha mencegah burung memakan serangga-serangga liar yang terbang dekat sangkarnya.

Kematian mendadak akibat megkonsumsi buah atau sayuran beracun

Hati-hati saat memberikan buah atau sayuran untuk burung peliharaan anda, karena bisa saja buah atau sayuran tersebut tercemar oleh racun atau pestisida. Untuk pencegahan, ada baiknya buah atau sayuran yang baru anda beli tersebut terlebih dahulu dicuci atau direndam dengan menggunakan air bersih. Selain itu, ada beberapa jenis buah-buahan yang tidak bisa diberikan pada burung peliharaan, salah satunya adalah buah alpukat.

Kematian mendadak akibat makanan atau minuman yang tidak umum

Akhir-akhir ini kecenderungan kicaumania mencoba beragam jenis makanan dan minuman yang tidak umum untuk burung miliknya agar menjadi rajin bunyi/gacor, ternyata menjadi salah satu penyebab kematian mendadak pada beberapa jenis burung peliharaan. Makanan atau minuman yang merupakan konsumsi manusia terutama yang mengandung coklat, soda, cola, alkohol, dan minuman penambah stamina jika diberikan pada burung peliharaan bisa menyebabkan gangguan kesehatan dan memicu kematian mendadak pada burung tersebut.

Itulah beberapa hal yang selama ini dikenal sebagai penyebab kematian mendadak pada burung peliharaan. Selain kemungkinan-kemungkinan tersebut, ada beberapa hal yang juga bisa menyebabkan kematian pada burung, yaitu infeksi penyakit dan gangguan saraf/ kelumpuhan.

Dengan mengetahui apa yang menjadi penyebabnya maka kita bisa melakukan pencegahan dan merawat burung kesayangan kita itu dengan lebih penuh perhatian. Semoga bermanfaat. (sumber : agrobur.com)

Perawatan Khusus Saat Betina Murai Batu Mengerami Telur

Foto : TORO Bird Farm
Foto : TORO Bird Farm

Foto : TORO Bird Farm

Bagi penangkar pemula, berhasil menjodohkan pasangan murai batu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, apalagi jika sang betina akhirnya mau bertelur. Namun perlu diketahui, pada fase ketika betina bertelur dan kemudian mengerami, justru merupakan fase krusial, hal mana kita justru harus berhati-hati dan cermat dalam perawatannya.

Telur burung yang sedang dierami oleh induk betina murai batu, harus mendapat perhatian ekstra dan khusus. Threatment ini dilakukan agar proses pengeraman dan penetasan bisa berlangsung dengan baik, dengan kualitas telur yang terjaga. Dengan demikian, anakan-anakannya yang berhasil menetas pun, kemungkinan besar kelak juga akan sehat bugar dan terjaga kualitasnya.

Apabila Anda telah mengetahui kapan kira-kira telur akan menetas, persiapkan perawatannya dengan cermat, telaten dan penuh perhatian.

1. Lakukan perawatan dua atau tiga hari menjelang telur menetas.
2. Sediakan kroto, cacing, jangkrik kecil-kecil yang sudah dihilangkan kaki-kakinya, atau serangga lain yang lembut dan lunak, agar sewaktu-waktu telur menetas induk langsung dapat memberi makan anak-anaknya sesuai kehendaknya.
3. Di dalam sangkar, induk tidak bisa secara bebas mencarikan makan untuk anaknya, maka kebutuhan pakan untuk anak burung harus selalu diperhatikan (jangan sampai kekurangan) dari hari ke hari.
4. Karena kebutuhan makan saat telur menetas tidak selalu sama dari hari ke hari sejak umur 1-15 hari, anak akan mulai belajar keluar sarang terutama saat bulunya sudah mulai lengkap. Induk burung akan memilih dan memberikan jenis pakan yang sesuai dan cocok dengan anaknya, sesuai dengan umur dan besaran fisik anak-anaknya.
5. Pada tahap menyuapi ini, pemberian pakan ekstra berupa serangga, tidak boleh terlambat, agar pertumbuhan anak burung tidak terhambat, dan mungkin akan mengalami kegagalan bila tidak dilaksanakan perawatan saat telur menetas.
6. Setelah anak mulai keluar dari sarang, jumlah jatah pakan perlu ditambah. Pada tahap ini, anak burung akan selalu minta disuapi dan kelihatannya selalu lapar dan ingin makan.
7. Usahakan tidak terlalu cepat memisahkan anak burung dari induknya, tunggu sampai kira-kira berumur satu atau dua bulan. Saat yang paling tepat untuk memisahkan anak dari induknya adalah bila ada tanda-tanda bahwa induk berusaha menjauh, bila anak mendekat untuk minta disuapi dan seolah-olah akan mematuknya.
8. Setelah tanda-tanda di atas terlihat, segera ambil dan pisahkan dengan hati-hati, agar induknya tidak terkejut dan stress. Apabila terkejut, apalagi stress, dapat mengakibatkan induk burung tidak mau bertelur dalam waktu yang cukup lama.
9. Apabila Anda memutuskan untuk menyuapi sendiri dan punya cukup waktu untuk melakukan itu, sebaiknya anakan dipanen ketika umur 7 hari. Pada usia itu, anakan biasanya belum membuka mata, sehingga jika kita pisah dari induknya, anakan tidak terlalu takut pada keberadaan orang, sehingga proses menyuapinya pun akan lebih mudah.

Semoga bermanfaat. Salam Breeding….