Murai Batu Kini (Terbukti) Ingkar Janji

 

Foto : Sasang PS

Foto : Sasang PS

Monogami dalam dunia burung kerap menjadi metafora yang melambangkan kesetiaan. Begitu kuatnya anggapan bahwa merpati sangat setia pada pasangan sampai memunculkan novel dan film berjuluk Merpati tak Pernah Ingkar Janji. Tapi, apakah merpati benar-benar setia? Tunggu dulu, kesetiaan merpati perlu pembuktian lebih lanjut!

Selama ini, banyak pakar percaya bahwa 90 persen jenis burung bersifat monogami. Mereka akan berpasangan selamanya pada setiap musim berbiak, dan membesarkan anaknya bersama-sama pula. Namun kini kesahihan teori itu diragukan. Sebab, terungkap fakta bahwa hewan yang menjalani monogami sosial pun melakukan hubungan seksual dengan bukan pasangannya.

Pada kenyataannya, monogami di dunia hewan memang langka ditemukan. Penelitian genetika yang dilakukan belakangan ini menunjukkan, hanya sekitar 10 persen jenis burung dan mamalia yang tampaknya benar-benar sehidup semati dengan pasangannya. Begitu jarangnya monogami sejati sampai-sampai David P. Barash dan Judith Eve Lipton, penulis “The Myth of Monogamy,” mengatakan bahwa kartu ucapan romantis dari Hallmark bergambar sepasang angsa sebenarnya sudah tidak cocok lagi. Angsa memang memiliki pasangan seumur hidup. Tetapi sebenarnya mereka tidak selalu setia kepada pasangannya. “Mungkin lebih pas kalau yang dipajang adalah gambar cacing pita. Merekalah yang benar-benar setia,” ujarnya.

Ambil saja contoh kucica hutan (murai batu). Burung molek ini sering dianggap sebagai lambang pemersatu keluarga karena sifatnya yang monogami. Seekor murai jantan akan mematuk hingga mati betina lain yang masuk ke kandangnya karena ia hanya ingin pasangan sejatinya saja yang jadi ratu di kandang. Namun kini kesetiaan itu telah tergadai. Buktinya, para penangkar murai batu dapat menguasai teknik menjodohkan murai batu jantan dengan beberapa betina yang berbeda. Alhasil, begitu mudahnya murai batu jantan berpaling ke lain hati.

Cerita tentang runtuhnya kredibilitas monogami pada burung telah beredar sejak beberapa dekade lalu. Salah satu studi yang terkenal adalah penelitian red-winged blackbirds (sejenis burung hitam dari Amerika) dengan menggunakan metoda vasektomi. Hasil yang diperoleh sangatlah mengejutkan. Ternyata, burung betina yang berpasangan dengan pejantan yang telah divasektomi tetap dapat bertelur dan menghasilkan anak. Tentu saja para ahli curiga, ada main diantara blackbird betina dengan pejantan lain yang bukan pasanganya.

Petunjuk derajat kesetiaan lainnya yang digunakan para peneliti adalah DNA. Uji DNA-lah yang menunjukkan apakah induk setia dan anaknya hanya memiliki satu ayah. Hasilnya luar biasa, sekitar 40 persen anak burung ditemukan tidak berayahkan pasangan sang ibu! Artinya, pasangan sang induk bukanlah ayah biologisnya.

Pemancar radio kecil yang dipasang di tubuh induk betina juga membawa hasil mengejutkan. Ternyata, di pagi hari, para betina ini menyelinap ke sarang tetangga untuk berkencan dan setelah itu kembali ke sarang diam-diam. Hasil penelitian juga memberi dugaan, para indukan mungkin memperoleh manfaat dari perilaku tak setia tersebut bagi kelanjutan spesies mereka. Kemungkinan sang betina berselingkuh untuk mendapatkan gen terbaik bagi anaknya, sementara sang jantan main serong mungkin didorong hasrat untuk menjadi ayah sebanyak dan sesering mungkin. (Sumber : burung.org)

 

Hati-Hati Meloloh Piyik MB Usia Di Bawah 5 Hari

 

Anakan MB Bing Tiong-3Persoalan meloloh piyik murai batu, sesungguhnya bukan masalah mudah dan sepele. Jika tidak memahami tekniknya, apalagi dilakukan secara serampangan, bisa saja mendatangkan kematian bagi sang piyik.

Breeder atau peternak yang belum cukup pengalaman, biasanya cenderung “bernafsu” saat meloloh atau memberi pakan kepada piyikan murai batu yang baru dipanen dari sarang. Apalagi bagi piyikan yang dipanen saat usia masih di bawah 5 hari; ini adalah moment yang sangat rentan karena piyikan di usia itu pada umumnya “rakus” terhadap makanan, terutama saat mendengar suara orang di sekitarnya. Dengan kata lain, piyikan di usia itu, kerap membuka paruh untuk meminta diloloh, baik dalam kondisi lapar maupun kenyang.

Untuk piyik yang diangkat sebelum usia 5 hari, penangkar sebaiknya meloloh piyik tersebut dijadwal setiap jam sekali. Hindari meloloh piyik secara sembarangan, sewaktu-waktu dan tanpa jadwal, meskipun piyik bersuara minta diloloh.  Sebelum meloloh, cari dan pilih kroto yang benar-benar bersih, tidak menguarkan aroma yang tidak sedap –yang mengindikasikan kroto tersebut basi.

Barangkali muncul pertanyaan, kenapa kuantitas meloloh musti dibatasi dan tertib jadwal satu jam sekali? Bukankah lebih banyak makanan yang masuk, kondisi piyik akan lebih sehat? Pertanyaan semacam itu memang logis. Tetapi perlu dipahami,  di saat usia masih di bawah 5 hari, pencernaan piyik masih labil dan rentan terhadap jumlah makanan yang masuk. Apabila terlalu kenyang, akibatnya akan sangat fatal dan piyik bisa mati kekenyangan. Karena itu hindari meloloh secara berlebihan. Cukup 4 hingga 6 suapan kroto bersih. Sebelum melolohkan ke paruh piyikan, sebaiknya kroto dicelup sebentar ke air matang yang hangat.

Di usia itu, sebenarnya bisa juga piyik diloloh dengan jangkrik. Namun perlu diperhatikan, jangkrik yang dipilih harus yang kecil dan lunak. Hilangkan kepalanya, dan pencet tubuh jangkrik agar lunak dan mudah dicerna oleh piyikan.

Apabila tidak ingin menanggung resiko, sebenarnya lebih baik memanen piyik dari sarang saat usia sudah di atas 5 hari tetapi jangan lebih dari 8 hari. Di usia itu, jenis makanan yang sudah bisa dilolohkan ke piyikan relatif lebih variatif. Selain kroto, piyik usia di atas 8 hari sudah bisa diberi vor basah, jangkrik kecil dan ulat hongkong yang berwarna putih. Jadwal pemberian pakannya pun tidak perlu lagi dipathok setiap satu jam sekali, tetapi bisa dilakukan sesering mungkin.

Semoga bermanfaat. Salam Breeding.

 

 

Inilah Beberapa Manfaat Ulat Kandang Untuk Penangkaran Murai Batu

ulatkandang

 

Ulat kandang sebagai pakan tambahan untuk burunulatkandangg peliharaan maupun menu utama penangkaran murai batu, sampai saat ini masih kalah pamor dibandingkan ulat hongkong. Padahal manfaat ulat kandang dikenal lebih ampuh ketimbang ulat hongkong, selain itu lebih aman jika diberikan dalam jumlah yang cukup banyak. Tulisan berikut akan mengulas apa manfaat ulat kandang dan bagaimana merawatnya sebagai pakan burung peliharaan.

Dalam bahasa Inggris, ulat kandang dikenal dengan nama lesser mealworm. Jenis ulat ini adalah larva dari kumbang Alphitobisu diaperinus (Tenebrionaidae). Betuknya mirip ulat hongkong, hanya saja dengan ukuran yang jauh lebih kecil, berwarna lebih gelap dan cara jalanya yang cukup cepat. Di kawasan Jawa Timur, ulat ini populer disebut ulat balap –mungkin karena cara berjalannya yang cepat itu.

Ulat kandang lazim ditemukan di peternakan-peternakan ayam dan dari situlah nama mereka berasal. Jenis ulat ini memang kurang begitu popular ketimbang ulat hongkong, namun penelitian atas kandungannya bisa membuktikan bahwa ulat kandang ternyata lebih memiliki banyak manfaat daripada ulat hongkong. Bahkan, menurut pengakuan sejumlah penangkar murai batu, manfaat ulat kandang ini sudah banyak teruji. Misalnya, untuk mendongkrak produktivitas indukan betina, serta menjaga daya tahan tubuh saat cuaca tidak bersahabat seperti musim hujan.

Manfaat ulat kandang untuk burung penangkaran & peliharaan antara lain:

  • Mendongkrak produktivitas indukan
  • Mendongkrak stamina burung sehingga burung jadi lebih aktif dan rajin berbunyi
  • Memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dari ulat hongkong
  • Memiliki kulit yang tidak terlalu keras
  • Tidak menimbulkan efek samping ketika diberikan dalam jumlah banyak

Salah satu penyebab kurang dikenalnya ulat kandang oleh sebagian kicaumania adalah sulitnya mencari keberadaan jenis ulat ini di toko-toko pakan burung. Sehingga tidak banyak kicaumania yang tahu banyak mengenai manfaat ulat kandang untuk burung mereka.

Kandungan nutrisi yang terdapat dalam ulat kandang adalah:

  • Protein kasar berjumlah 48%
  • Lemak kasar berjumlah 40 %
  • Kadar abu berjumlah 3%
  • Kandungan ekstrak non-nitrogen berjumlah 8%
  • Kadar air berjumlah 57%

Perawatan ulat kandang untuk pakan burung kicauan
Merawat ulat kandang tidak jauh berbeda dengan merawat ulat hongkong untuk pakan burung kicauan. Untuk menjaga agar ulat kandang tersebut tetap segar dan sehat, maka pemberian pakan harus diutamakan. Adapun cara yang bisa dilakukan untuk merawat ulat kandang adalah sebagai berikut:

  • Menaburi voer halus ke dalam tempat menyimpan ulat kandang tersebut.
  • Memberikan pakan sayuran seperti irisan kentang, wortel, atau yang lainnya.
  • Menjaga dari serangan hama seperti semut atau binatang perusak lainnya.
  • Menyimpan di tempat yang teduh dan lembab, serta tidak terkena sinar matahari langsung.

Namun jika tidak mau direpotkan dengan perawatannya itu, anda bisa menyimpan ulat-ulat kandang tersebut dalam sebuah wadah atau toples lalu disimpan dalam lemari pendingin untuk dibekukan.  Itulah beberapa manfaat ulat kandang untuk burung kicauan serta bagaimana cara merawatnya. Salam kicau. (Sumber : agrobur.com)

 

Mengenal Lebih Dekat Penangkaran Murai Batu Ekor Hitam

Foto : mediaronggolawe.com

 

Foto : mediaronggolawe.com

Foto : mediaronggolawe.com

Murai batu ekor hitam (black tail) memang sudah lama ngetren di Jabodetabek dan sekitarnya. Bahkan sebagian penggemarnya membuka kelas khusus ini. Itu berarti pemiliknya bisa mengikuti kelas khusus, sekaligus bisa menurunkan burungnya di kelas murai biasa. Hal inilah yang membuat beberapa penangkar murai, misalnya Om Imam Iswahyudi (Yaqisa Bird Farm), bersemangat dalam mengembangbiakkan murai batu ekor hitam.

Upaya penangkaran murai black tail ini sekaligus untuk menekan angka penangkapan burung di alam liar, khususnya di pulau-pulau kecil yang termasuk dalam wilayah Nangroe Aceh Darussalam (misalnya Kepulauan Simeulue / Sibabang, Lempuyang, Lasia, Sabang), Sumatera Utara (Pulau Nias), dan Sumatera Barat (Kepulauan Mentawai dan Pagai).

Menurut Om Imam, dari kualitas suara, volume murai ekor hitam jauh lebih keras dan tembus daripada murai batu biasa. Begitu juga durasi kerjanya, jauh lebih ngedur ketimbang jenis murai pada umumnya. Selama ini memang beredar mitos-mitos keliru mengenai murai ekor hitam.

Saat ini, Om Imam memiliki empat pasang induk murai ekor hitam di kediamannya, Perumahan Griya Harapan Permai Blok-4 No 18, Harapan Indah Bekasi. Yaqisa Bird Farm juga menangkarkan murai batu ekor putih, khususnya yang berasal dari Lampung, tetapi sebagian besar merupakan trah juara.

Menurutnya, banyak kelebihan dan kemudahan dalam penangkaran black tail. Antara lain, burungnya lebih cepat jinak, proses penjodohan juga lebih mudah, dan tidak membutuhkan waktu lama. ”Ini keunggulan black tail,” ujarnya, ketika ditemui omkicau.com di rumahnya.

Sampai saat ini, Om Imam masih membatasi jumlah pasangan induk, agar lebih fokus. Induk jantan yang dijodohkan pun dipilih dengan kriteria utama sudah pernah berprestasi di lapangan. Harapannya, anakan yang dihasilkan bisa memiliki karakter fighter seperti bapaknya. Bahkan, agar lebih bervariasi, dia juga menyilangkan dengan murai batu medan atau murai ekor panjang.

Sedangkan induk betina dipilih yang memiliki kualitas suara dan postur ideal (tubuh proporsional). Jadi, ada kombinasi antara kualitas suara, mental di lapangan, dan penampilan fisiknya.

Sebagai seorang breeder, Om Imam memang lebih mengarahkan produknya pada mutu atau kualitas. Seleksi anakan dilakukan sejak awal, demi menjaga mutu produk. Sebab para pelanggan anakan murai produk Yaqisa BF bukan sekadar penghobi rumahan saja, tetapi juga para pemain lapangan.

Untuk meningkatkan kualitas anakan, Yaqisa BF juga makin selektif dalam memilih indukan. Beberapa induk jantan memiliki basic blood dari Arco BF Serang milik Om Darlian, yang dikenal sering melahirkan murai batu jawara di Jabodetabek, kemudian dikawinkan dengan induk betina yang juga memiliki darah juara.

“Beberapa induk betinanya merupakan keturunan burung jawara favorit di Arco BF, misalnya Matador, Raja Rimba, Torres, Patriot, dan Zola. Semuanya merupakan murai jawara produk Arco,” tandas Om Imam. (Sumber : Dudung Abdul Muslim, omkicau.com)

Jangan Maniak Kroto Untuk MB Anda, Karena Telur Pun Bisa Jadi Gantinya

jawarakicau

 

jawarakicauSebagian besar pemilik murai batu memberikan kroto, baik sebagai pakan tambahan (extra fooding) untuk burung yang biasa makan voer, maupun sebagai pakan utama untuk  burung yang tidak pernah makan voer seperti murai batu Panglima milik Om Yongka dari Jambi. Pada musim hujan seperti saat ini, kicaumania di beberapa daerah kian sulit mendapatkan kroto yang benar-benar berkualitas. Sebagai pengganti kroto, baik sementara maupun permanen, Anda bisa memanfaatkan telur untuk pakan murai batu dalam beberapa variasi.

Jika kita mau membicarakan perawatan murai batu secara global, maka budaya memberikan kroto untuk murai batu boleh dikatakan khas Indonesia. Di beberapa negara Asia Tenggara pun, sebenarnya tidak banyak kicaumania yang memberi kroto untuk murai batu. Mereka lebih mengandalkan voer, ulat hongkong, jangkrik, ikan-ikan kecil, serta multivitamin dan multimineral.

Belakangan, beberapa muraimania di Malaysia dan Singapura memberikan kroto, karena meniru apa yang dilakukan sobat kicaumania di Indonesia. Ini bisa disimak dalam beberapa forum burung kicauan di kedua negara tersebut. Adapun penggemar murai batu di Eropa dan Amerika, yang jumlahnya terus bertambah, sangat jarang memberikan kroto kepada murai batunya. Jadi, ketika kroto kita tinggalkan untuk sementara (akibat kelangkaan pasar) maupun permanen, sebenarnya tidak menjadi masalah besar.

Dalam kasus yang “lebih kecil”, Om Syamsul Saputro dari SKL Bird Farm juga tak menggunakan kroto selama murai batu mabung. Toh tidak ada masalah, sepanjang burung memang sudah terbiasa makan voer.

Apabila Anda membatin, “Lha, yang dicontohkan Om Kicau kan burung-burung dalam penangkaran”, maka Om Kicau akan menjawab, bukankah murai batu yang dilombakan di Malaysia, Singapura, Vietnam, apalagi di Eropa, umumnya juga tak pernah dikroto? Bahkan murai batu Biola dan anis merah Romeo, keduanya milik Om Yang-Yang (owner PM22 Tasikmalaya), sudah beberapa kali menjuarai lomba regional di Jawa Barat.

Sebenarnya solusi ini bukan hanya bisa diterapkan untuk murai batu, tetapi juga untuk jenis burung kicauan lainnya, seperti kacer, ciblek, tledekan, dan sebagainya. Bahkan untuk beberapa jenis burung tertentu.

Jadi, meski objek tulisan ini mengenai murai batu, materinya dapat diaplikasikan pada jenis burung lain yang selama ini terbiasa makan kroto.

Sesuai dengan judul artikel ini, ada beberapa variasi pemanfaatan telur untuk pakan murai batu. Setidaknya ada tiga variasi, yaitu  :

  • Memberikan telur rebus (putih telur dan kuning telur)
  • Memberikan telur rebus (hanya putih telur saja)
  • Menyuntikkan kuning telur ke tubuh jangkrik, lalu diberikan kepada burung

 

1. Memberikan telur rebus (putih telur dan kuning telur)

Telur yang bisa digunakan boleh telur ayam, telur itik / bebek, atau telur puyuh. Mengenai kandungan gizi pada ketiga jenis telur ini, silakan lihat pada tabel di bagian bawah halaman ini.

Jika bahan baku sudah ada, silakan rebus telur. Jika sudah matang, kupas cangkang telurnya, sehingga tinggal gelondongan telur yang terdiri atas putih telur (bagian luar) dan kuning telur (tidak terlihat, karena di dalam, he.. he..). Selanjutnya, gelondongan telur diparut dengan serutan keju agar hasilnya menjadi lebih halus.

Metode inilah yang diterapkan Om Yang-Yang (PM22 Tasikmalaya). Namun, untuk mengawalinya, harus diberikan secara bertahap. Sebab jika langsung diberikan, terkadang burung tidak mau.

Jadi, awalnya 1 bagian parutan telur dicampur dengan 3 bagian kroto, dan secara bertahap perbandingannya dibalik sehingga lama-lama menjadi 3 : 1 dan akhirnya 4 : 0 yang berarti sudah full telur, dan good bye untuk kroto.

Hal serupa juga dilakukan Om Agus, pemilik ABS Bird Farm di Ciracas, Jakarta Timur. Bedanya, Om Agus mencampur parutan telur rebus dengan jangkrik dan ulat hongkong

 

2. Memberikan telur rebus (hanya putih telur saja)

Selain metode di atas, Anda juga bisa memberikan telur rebus namun hanya putih telur (albumin) saja. Telur yang digunakan juga boleh ayam, bebek, maupun puyuh.

Untuk memberikan putih telur rebus, ada dua cara :

Pertama, seperti metode sebelumnya, telur direbus hingga matang. Selanjutnya dikupas cangkangnya. Gelondongan telur dibelah dua, dan bagian kuning telur bisa disimpan untuk keperluan lain (dimakan juga sah-sah saja, he.. he..). Putih telur dipotong-potong seukuran jari, atau bisa juga diparut dengan serutan keju agar hasilnya lebih halus.

Kedua, telur mentah ditusuk dengan jarum pada ujung telur yang tumpul, kemudian dicongkel sedikit sehingga terjadi lubang kecil dan menjadi tempat keluarnya cairan putih telur. Tampung putih telur dalam kantung plastik, kemudian direbus hingga matang. Putih telur yang sudah matang juga bisa dipotong-potong seukuran jari, atau diparut menggunakan serutan keju.

Adapun kuning telur alias yolk bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, misalnya dimanfaatkan untuk pembuatan eggfood bagi kenari atau ciblek Anda (kalau kuning telur ayam kampung bisa untuk jamu…).

Putih telur memiliki kandungan protein yang tinggi, sekitar 15-19 %, tergantung jenis telurnya. Selain itu, putih telur juga mengandung vitamin yang cukup lengkap (A, D, E, K, B2, B5, B9, dan B12), asam amino yang bagus untuk  pembentukan hormon dan pertumbuhan bulu-bulunya.

 

3. Menyuntikkan kuning telur ke tubuh jangkrik

Kuning telur yang masih mentah (belum direbus) juga bisa disuntikkan / dispet ke tubuh jangkrik. Jumlah jangkrik yang dispet cukup 2 – 3 ekor saja. Misalnya burung Anda terbiasa diberi jangkrik dengan porsi 5/5, maka cukup 2 – 3 ekor jangkrik saja yang dispet kuning telur pada pagi hari.

Teknik pengambilan kuning telur bebas. Boleh dipecah dan isinya dimasukkan dalam cawan kecil, lalu dipisahkan antara kuning dan putih telurnya. Selanjutnya, kuning telur disedot dengan spet, dan disuntikkan ke tubuh jangkrik. Cara seperti inilah yang diterapkan SKL Bird Farm ketika mengalami kelangkaan kroto. (Sumber : Aries Munandi, omkicu.com)

Bisnis Penangkaran Murai Batu Masih Sangat Menjanjikan

Foto : TORO Bird Farm
Foto : TORO Bird Farm

Foto : TORO Bird Farm

Meski saat ini semakin banyak saja orang yang menangkarkan murai batu, tetapi prospek ke depannya tetap bagus. Hal ini disebabkan stok pasokan murai batu dari hutan mulai menipis karena terus dikuras, sementara peminat burung kicauan semakin hari semakin banyak saja. Pada saat yang sama, banyak penghobi yang tidak sabar untuk merawat murai hasil tangkapan hutan karena lama jinaknya, dan karenanya harus menunggu setahun dua tahun untuk menikmati burungnya secara maksimal, apalagi untuk dibawa ke arena lomba.

Sementara anakan murai batu hasil penangkaran, selain kita bisa memilih anakan dari indukan-indukan tertentu yang kita sukai, entah karena suaranya atau karena postur tubuhnya, juga cepat bunyi. Bahkan ketika masih trotolpun sudah mulai bisa dinikmati ngriwikannya. Selepas mabung, biasanya murai batu hasil tangkaran dengan indukan yang bagus sudah mulai ngerol dan bahkan ada yang sudah siap masuk arena lomba.

Untuk penangkar, kondisi ini memang menguntungkan. Dan sejauh ini, tidak pernah ada cerita anakan murai batu harganya jatuh. Minimal bertahan tetapi kecenderungannya naik terus. Apakah dengan banyaknya penangkaran nanti tidak akan membuat harga burung murai batu jatuh di pasaran? Saya yakin tidak. Sebab, semakin hari semakin banyak orang yang mencari anakan-anakan murai batu dari indukan bagus, dan para penangkarpun akan harus berlomba untuk mencari indukan bagus. Artinya, kalau kita sudah bisa menangkar dengan indukan yang kualitasnya “biasa saja”, tentu akan terpacu untuk mencari indukan dengan kualitas bagus. Artinya, pemburu murai batu hasil tangkaran tidak hanya penghobi tetapi juga penangkar yang sudah mapan atau para penangkar pemula.

Tentu saja, agar kita bisa bertahan menjadi penangkar murai batu yang produksinya selalu diburu oleh penghobi, haruslah selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas produk. Selain diupayakan melalui pencarian indukan di arena lomba, juga bisa dilakukan cross antar jenis murai batu. Misalnya, murai batu ekor panjang untuk betina dan murai batu nias untuk pejantannya.

Murai batu nias terkenal punya tembakan-tembakan yang melengking dan kristal, tetapi kurang disukai juri di arena lomba karena ekornya hitam semua. Nah dengan mencoba menyilangkannya dengan murai batu jenis lain, diharapkan akan menghasilkan anakan dengan suara kualitas nias tetapi dengan ada warna putih di ekornya. (Sumber : facebook – Murai Batu “chrisna” Pati,Jateng”)